Modal Domain Puluhan Ribu, Pria Ini Dapat Mobil Listrik Rp190 Juta
Rabu, 23 Juli 2025 - 06:12 WIB
loading...
Hanya dengan membeli domain seharga kopi kekinian, pelanggan mendapatkan WUling Air EV. Foto: Exabytes Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Keberuntungan luar biasa baru saja menyapa Pratama Persadha. Hanya dengan membeli satu nama domain atau alamat digital yang harganya bisa semurah sebungkus kopi kekinian, ia resmi menjadi pemilik mobil listrik Wuling Air EV - Lite baru yang harganya berkisar Rp190 juta.
Pratama adalah pemenang utama program undian "Exavaganza", kampanye masif yang digelar oleh raksasa penyedia hosting Exabytes Indonesia bersama PANDI, sang penjaga gerbang domain internet Indonesia.
Program ini, pada dasarnya, adalah sebuah pancingan. Hadiah mobil listrik yang menggiurkan menjadi umpan untuk mengakselerasi adopsi domain lokal .id. Hasilnya? Exabytes mencatat adanya peningkatan 20% registrasi domain .id selama periode kampanye dari Juni hingga Desember 2024.
“Program undian ini saya nilai sangat fair dan transparan. Saya hanya membeli satu domain di Exabytes, dan ternyata menjadi pemenang utama," ujar Pratama Persadha dengan wajah berbinar.
Kesaksian Pratama adalah musik di telinga para eksekutif. Satu pelanggan puas, puluhan ribu domain baru terjual. Inilah potret sebuah strategi pemasaran yang dieksekusi dengan presisi.
Pertarungan Identitas: .ID Melawan .COM
Di balik kampanye glamor ini, ada sebuah pertarungan sengit yang tak terlihat. Selama bertahun-tahun, domain .com menjadi raja tak terbantahkan di dunia internet. Namun, PANDI dan para mitranya seperti Exabytes punya misi lain: menjadikan .id tuan rumah di negeri sendiri.
John Sihar Simanjutak, Ketua PANDI, memaparkan data dengan nada penuh kemenangan. "Per 30 Juni 2025, jumlah domain .id telah mencapai 1.261.732, menjadikannya yang tertinggi di kawasan ASEAN," ujarnya.
Ia menambahkan data yang lebih menusuk. "Sejak Oktober 2024, .id memegang pangsa pasar sebesar 51%, sementara .com turun menjadi 41%. Ini adalah bukti tumbuhnya semangat nasionalisme digital."
Narasi "nasionalisme digital" dan "kedaulatan bangsa" menjadi senjata utama. Namun secara objektif, ini adalah pertarungan bisnis. Setiap domain .id yang terjual adalah pendapatan bagi PANDI dan keuntungan bagi registrar seperti Exabytes. Mobil seharga Rp190 juta itu, pada akhirnya, adalah biaya akuisisi pelanggan yang sangat efektif.
“Program Exavaganza adalah bentuk konkret komitmen kami. Domain .id adalah pintu gerbang menuju peluang global," kata Indra. "Dengan menguatnya penggunaan domain lokal, bisnis Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemain kompetitif."
Intinya, Exabytes tidak hanya menjual alamat website. Mereka menjual tiket bagi UMKM dan para perintis untuk bisa bersaing. Sebuah domain .id, yang sering ditawarkan dengan harga promosi mulai dari Rp55.000 hingga Rp250.000 per tahun, diposisikan sebagai investasi pertama menuju panggung global.
Kemitraan Pemerintah-Swasta (Public-Private Partnership) ini jelas sebuah simbiosis mutualisme: PANDI memperkuat dominasi .id, Exabytes meraup pelanggan baru, dan pemerintah bisa melaporkan kemajuan program digitalisasi.
Pada akhirnya, kisah ini memiliki banyak pemenang. Pratama Persadha menang mobil. Exabytes dan PANDI menang pasar. Dan Indonesia, selangkah lebih dekat untuk menancapkan benderanya sendiri—bendera .id—di lanskap digital dunia yangtanpabatas.
Pratama adalah pemenang utama program undian "Exavaganza", kampanye masif yang digelar oleh raksasa penyedia hosting Exabytes Indonesia bersama PANDI, sang penjaga gerbang domain internet Indonesia.
Program ini, pada dasarnya, adalah sebuah pancingan. Hadiah mobil listrik yang menggiurkan menjadi umpan untuk mengakselerasi adopsi domain lokal .id. Hasilnya? Exabytes mencatat adanya peningkatan 20% registrasi domain .id selama periode kampanye dari Juni hingga Desember 2024.
“Program undian ini saya nilai sangat fair dan transparan. Saya hanya membeli satu domain di Exabytes, dan ternyata menjadi pemenang utama," ujar Pratama Persadha dengan wajah berbinar.
Kesaksian Pratama adalah musik di telinga para eksekutif. Satu pelanggan puas, puluhan ribu domain baru terjual. Inilah potret sebuah strategi pemasaran yang dieksekusi dengan presisi.
Pertarungan Identitas: .ID Melawan .COM
![Modal Domain Puluhan Ribu, Pria Ini Dapat Mobil Listrik Rp190 Juta]()
Di balik kampanye glamor ini, ada sebuah pertarungan sengit yang tak terlihat. Selama bertahun-tahun, domain .com menjadi raja tak terbantahkan di dunia internet. Namun, PANDI dan para mitranya seperti Exabytes punya misi lain: menjadikan .id tuan rumah di negeri sendiri.
John Sihar Simanjutak, Ketua PANDI, memaparkan data dengan nada penuh kemenangan. "Per 30 Juni 2025, jumlah domain .id telah mencapai 1.261.732, menjadikannya yang tertinggi di kawasan ASEAN," ujarnya.
Ia menambahkan data yang lebih menusuk. "Sejak Oktober 2024, .id memegang pangsa pasar sebesar 51%, sementara .com turun menjadi 41%. Ini adalah bukti tumbuhnya semangat nasionalisme digital."
Narasi "nasionalisme digital" dan "kedaulatan bangsa" menjadi senjata utama. Namun secara objektif, ini adalah pertarungan bisnis. Setiap domain .id yang terjual adalah pendapatan bagi PANDI dan keuntungan bagi registrar seperti Exabytes. Mobil seharga Rp190 juta itu, pada akhirnya, adalah biaya akuisisi pelanggan yang sangat efektif.
Dari Jargon Menjadi Aksi
Para petinggi tak segan menggunakan jargon-jargon besar seperti Digital Transformation Initiative (DTI) dan Visi Indonesia Digital 2045. Indra Hartawan, Country Manager Exabytes Indonesia, menerjemahkannya dengan lebih lugas.“Program Exavaganza adalah bentuk konkret komitmen kami. Domain .id adalah pintu gerbang menuju peluang global," kata Indra. "Dengan menguatnya penggunaan domain lokal, bisnis Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemain kompetitif."
Intinya, Exabytes tidak hanya menjual alamat website. Mereka menjual tiket bagi UMKM dan para perintis untuk bisa bersaing. Sebuah domain .id, yang sering ditawarkan dengan harga promosi mulai dari Rp55.000 hingga Rp250.000 per tahun, diposisikan sebagai investasi pertama menuju panggung global.
Kemitraan Pemerintah-Swasta (Public-Private Partnership) ini jelas sebuah simbiosis mutualisme: PANDI memperkuat dominasi .id, Exabytes meraup pelanggan baru, dan pemerintah bisa melaporkan kemajuan program digitalisasi.
Pada akhirnya, kisah ini memiliki banyak pemenang. Pratama Persadha menang mobil. Exabytes dan PANDI menang pasar. Dan Indonesia, selangkah lebih dekat untuk menancapkan benderanya sendiri—bendera .id—di lanskap digital dunia yangtanpabatas.
(dan)
Lihat Juga :