Ladang Uang Baru 5G Terungkap: Fixed Wireless Access, Perang Perebutan Internet Rumah Dimulai
Sabtu, 28 Juni 2025 - 17:08 WIB
loading...
Fokus pertempuran baru adalah Fixed Wireless Access (FWA), teknologi yang memungkinkan penyaluran internet super cepat ke rumah-rumah. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Di balik gembar-gembor 5G yang selama ini identik dengan kecepatan internet di ponsel, sebuah "ladang uang" baru yang selama ini tersembunyi kini mulai terbuka lebar, memicu perang senyap di antara para raksasa telekomunikasi global.
Laporan terbaru Ericsson Mobility Report edisi Juni 2025 mengungkap sebuah tren yang tak terbantahkan: masa depan keuntungan 5G tidak hanya ada di genggaman tangan, tetapi juga di ruang keluarga Anda.
Fokus pertempuran baru ini adalah Fixed Wireless Access (FWA), teknologi yang memungkinkan penyaluran internet super cepat ke rumah-rumah tanpa perlu lagi menarik kabel fiber optik yang rumit dan mahal.
Ini adalah revolusi, cara untuk "menembakkan" sinyal 5G langsung ke modem di rumah Anda, dan para perusahaan telekomunikasi mulai menyadari potensi keuntungan masif di baliknya.
Artinya, mereka tidak lagi hanya menjual koneksi, tetapi menjual pengalaman. Sama seperti Anda memilih paket internet kabel 100 Mbps atau 300 Mbps, kini Anda bisa memilih paket internet nirkabel 5G dengan kecepatan serupa.
“Ini adalah titik krusial, di mana 5G dan ekosistemnya akan memicu gelombang inovasi baru," ujar Erik Ekudden, Senior Vice President dan Chief Technology Officer Ericsson.
"Penyedia layanan telah menyadari potensi 5G ini dan mulai memonetisasinya melalui penawaran layanan inovatif yang melampaui sekadar menjual paket data."
FWA diproyeksikan akan menjadi kekuatan dominan, menyumbang lebih dari 35% koneksi internet rumah baru secara global pada 2030, dengan total 350 juta sambungan.
Namun, ada satu syarat krusial.
"Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki potensi yang kuat dalam memanfaatkan 5G," kata Daniel Ode, Pelaksana Tugas Kepala Ericsson Indonesia. "Kami yakin Indonesia dapat meraih manfaat serupa begitu spektrum yang memadai tersedia."
Pernyataan ini adalah sebuah sinyal halus namun tegas. Potensi raksasa itu baru bisa terbuka jika ada "jalan tol" frekuensi yang cukup lebar untuk dilewati oleh lalu lintas data 5G yang masif. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi penonton dalam perlombaan global ini.
Pada akhirnya, laporan Ericsson ini bukan hanya sekumpulan angka. Ini adalah sebuah peta harta karun yang menunjukkan di mana "emas" 5G selanjutnya berada.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal "apakah" 5G akan mengubah dunia, tetapi siapa yang akan menjadi pemain tercepat dan tercerdas dalam memperebutkan ladang uang baru yang bernama internet rumahnirkabelini.
Laporan terbaru Ericsson Mobility Report edisi Juni 2025 mengungkap sebuah tren yang tak terbantahkan: masa depan keuntungan 5G tidak hanya ada di genggaman tangan, tetapi juga di ruang keluarga Anda.
Fokus pertempuran baru ini adalah Fixed Wireless Access (FWA), teknologi yang memungkinkan penyaluran internet super cepat ke rumah-rumah tanpa perlu lagi menarik kabel fiber optik yang rumit dan mahal.
Ini adalah revolusi, cara untuk "menembakkan" sinyal 5G langsung ke modem di rumah Anda, dan para perusahaan telekomunikasi mulai menyadari potensi keuntungan masif di baliknya.
Saat Kecepatan Menjadi Uang
Laporan Ericsson menunjukkan pergeseran strategi yang dramatis. Lebih dari separuh (51%) perusahaan telekomunikasi global yang menawarkan FWA kini telah menjualnya dalam bentuk paket berbasis kecepatan, persis seperti layanan internet kabel. Angka ini melonjak dari hanya 40% pada tahun sebelumnya.Artinya, mereka tidak lagi hanya menjual koneksi, tetapi menjual pengalaman. Sama seperti Anda memilih paket internet kabel 100 Mbps atau 300 Mbps, kini Anda bisa memilih paket internet nirkabel 5G dengan kecepatan serupa.
“Ini adalah titik krusial, di mana 5G dan ekosistemnya akan memicu gelombang inovasi baru," ujar Erik Ekudden, Senior Vice President dan Chief Technology Officer Ericsson.
"Penyedia layanan telah menyadari potensi 5G ini dan mulai memonetisasinya melalui penawaran layanan inovatif yang melampaui sekadar menjual paket data."
FWA diproyeksikan akan menjadi kekuatan dominan, menyumbang lebih dari 35% koneksi internet rumah baru secara global pada 2030, dengan total 350 juta sambungan.
Indonesia di Ambang Revolusi Serupa
Meskipun pertarungan ini sudah memanas di Amerika Utara dan Eropa, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, disebut memiliki potensi yang sama besarnya. Laporan ini memproyeksikan jumlah pelanggan 5G di kawasan ini akan mencapai 630 juta pada 2030, dengan lalu lintas data per ponsel melonjak dua kali lipat.Namun, ada satu syarat krusial.
"Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki potensi yang kuat dalam memanfaatkan 5G," kata Daniel Ode, Pelaksana Tugas Kepala Ericsson Indonesia. "Kami yakin Indonesia dapat meraih manfaat serupa begitu spektrum yang memadai tersedia."
Pernyataan ini adalah sebuah sinyal halus namun tegas. Potensi raksasa itu baru bisa terbuka jika ada "jalan tol" frekuensi yang cukup lebar untuk dilewati oleh lalu lintas data 5G yang masif. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi penonton dalam perlombaan global ini.
Pada akhirnya, laporan Ericsson ini bukan hanya sekumpulan angka. Ini adalah sebuah peta harta karun yang menunjukkan di mana "emas" 5G selanjutnya berada.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal "apakah" 5G akan mengubah dunia, tetapi siapa yang akan menjadi pemain tercepat dan tercerdas dalam memperebutkan ladang uang baru yang bernama internet rumahnirkabelini.
(dan)
Lihat Juga :