GIPA Ajak Pelajar Indonesia Meniti Karir di Perusahaan Teknologi Global
Kamis, 23 Juli 2020 - 15:56 WIB
loading...
A
A
A
“Keterampilan teknis seperti bahasa pemrograman memang penting, tapi itu bukan segalanya” tukas Sofyan, ketika salah seorang penonton bertanya soal apa yang dicari oleh perusahaan teknologi ini. Sikap dan kemampuan komunikasi yang baik juga sangat penting, mengingat persaingan yang sangat ketat dan lingkungan kerja yang menuntut kecepatan, menurut Rei yang sempat memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa di universitasnya. Kompetensi serta kebutuhan tersebut seringkali diuji saat wawancara 3-tahap yang seringkali menjadi bagian keharusan untuk mendapat pekerjaan sebagai seorang tech engineer.
Tahap pertama, Jedi, umumnya berupa pelatihan teknis yang bisa dipersiapkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari situs pemrograman seperti Leetcode dan HackerRank. Tahap kedua wawancara biasa melingkupi keterampilan interpersonal, diantaranya: kepemimpinan, persuasif, resolusi konflik, dan ketabahan, dan disebut sebagai Ninja. Tahap terakhir wawancara yaitu Pirate selalu melibatkan tugas mendesain complex systems. “Waktu dulu sempat disuruh mendesain sistem yang mengotomasi proses perdagangan saham, untungnya aku terbiasa berbicara sambil coding”, tukas Sofyan yang mengenyam pendidikan sarjananya di universitas Notre Dame. Walaupun pada waktu itu dia tidak terlalu akrab dengan cara kerja pasar keuangan, kemampuan komunikasinya membuat dia bisa berdiskusi dengan pewawancara sembari mengerjakan soal dan akhirnya mendapatkan tawaran pekerjaan tersebut.
Ketika ditanya mengenai orang macam apa yang akan sukses dalam proses perekrutan di perusahaan teknologi, Sofyan dan Rei sepakat bahwa individu yang sukses beralih karir ke adalah orang yang berani mengambil risiko serta memiliki fokus yang luar biasa. “Saya melihat Mereka menyelesaikan kursus online yang jumlahnya tidak sedikit, bergabung dengan sebuah bootcamp (kursus programming intensif) yang ternama, dan mencari peluang secara proaktif” ujar Rei, yang mengambil jurusan Teknik Informatika dan Bisnis sekaligus untuk gelar sarjananya. Sofyan juga mengungkapkan bahwa dia sering menyayangkan orang-orang yang mendapat kesempatan namun tidak berani untuk mengambil kesempatan tersebut. Hingga di akhir sesi, Sofyan sempat memberikan nasihat kepada seluruh penonton pada saat itu, “jika anda melihat sebuah peluang, say yes first and learn how to do it later”.
Tahap pertama, Jedi, umumnya berupa pelatihan teknis yang bisa dipersiapkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari situs pemrograman seperti Leetcode dan HackerRank. Tahap kedua wawancara biasa melingkupi keterampilan interpersonal, diantaranya: kepemimpinan, persuasif, resolusi konflik, dan ketabahan, dan disebut sebagai Ninja. Tahap terakhir wawancara yaitu Pirate selalu melibatkan tugas mendesain complex systems. “Waktu dulu sempat disuruh mendesain sistem yang mengotomasi proses perdagangan saham, untungnya aku terbiasa berbicara sambil coding”, tukas Sofyan yang mengenyam pendidikan sarjananya di universitas Notre Dame. Walaupun pada waktu itu dia tidak terlalu akrab dengan cara kerja pasar keuangan, kemampuan komunikasinya membuat dia bisa berdiskusi dengan pewawancara sembari mengerjakan soal dan akhirnya mendapatkan tawaran pekerjaan tersebut.
Ketika ditanya mengenai orang macam apa yang akan sukses dalam proses perekrutan di perusahaan teknologi, Sofyan dan Rei sepakat bahwa individu yang sukses beralih karir ke adalah orang yang berani mengambil risiko serta memiliki fokus yang luar biasa. “Saya melihat Mereka menyelesaikan kursus online yang jumlahnya tidak sedikit, bergabung dengan sebuah bootcamp (kursus programming intensif) yang ternama, dan mencari peluang secara proaktif” ujar Rei, yang mengambil jurusan Teknik Informatika dan Bisnis sekaligus untuk gelar sarjananya. Sofyan juga mengungkapkan bahwa dia sering menyayangkan orang-orang yang mendapat kesempatan namun tidak berani untuk mengambil kesempatan tersebut. Hingga di akhir sesi, Sofyan sempat memberikan nasihat kepada seluruh penonton pada saat itu, “jika anda melihat sebuah peluang, say yes first and learn how to do it later”.
(wbs)
Lihat Juga :