Ilmuwan Temukan Fosil Troodontida, Dinosaurus Pintar Mirip Burung
Selasa, 04 April 2023 - 16:13 WIB
loading...
A
A
A
Para ilmuwan menyatakan, dinosaurus ini mungkin dapat beralih antara keadaan berdarah panas dan keadaan mati suri berdarah dingin. Strategi yang umum pada burung modern, yang disebut heterothermy.
Troodon mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 107,6 derajat Fahrenheit atau 42 derajat Celcius tetapi bisa turun menjadi 84,2 derajat Fahrenheit atau 29 derajat Celcius untuk mengatasi makanan yang terbatas atau cuaca yang keras.
Dalam studi yang diterbitkan Senin 3 April 2023 di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, peneliti memeriksa pola mineralisasi cangkang telur pada telur milik spesies Troodon formosus dan membandingkannya dengan burung modern dan reptil. Mereka menggunakan teknik yang menganalisis kandungan kalsit dari kulit telur dan menentukan kecepatan dan suhu pembentukannya.
Baca juga; Misteri Fosil Dinosaurus Terkecil di Dunia Terungkap
“Burung dan reptil memiliki dua pola mineralisasi yang berbeda terkait dengan produksi cangkang telur,” kata penulis studi utama Mattia Tagliavento, seorang peneliti postdoctoral paleontologi di Goethe University di Frankfurt, Jerman, kepada Live Science.
Troodon mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 107,6 derajat Fahrenheit atau 42 derajat Celcius tetapi bisa turun menjadi 84,2 derajat Fahrenheit atau 29 derajat Celcius untuk mengatasi makanan yang terbatas atau cuaca yang keras.
Dalam studi yang diterbitkan Senin 3 April 2023 di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, peneliti memeriksa pola mineralisasi cangkang telur pada telur milik spesies Troodon formosus dan membandingkannya dengan burung modern dan reptil. Mereka menggunakan teknik yang menganalisis kandungan kalsit dari kulit telur dan menentukan kecepatan dan suhu pembentukannya.
Baca juga; Misteri Fosil Dinosaurus Terkecil di Dunia Terungkap
“Burung dan reptil memiliki dua pola mineralisasi yang berbeda terkait dengan produksi cangkang telur,” kata penulis studi utama Mattia Tagliavento, seorang peneliti postdoctoral paleontologi di Goethe University di Frankfurt, Jerman, kepada Live Science.

Lihat Juga :