Ini Rahasia Roket Bisa Terbang di Luar Angkasa meskipun Tidak Ada Oksigen

Rabu, 25 Mei 2022 - 22:13 WIB
Desain roket pun dibuat sedemikian rupa mencakup ruang bakar, tempat oksidator dan bahan bakar bereaksi, serta kemudian nosel tempat menghasilkan energi pembakaran. “Jika Anda mendorong kekuatan yang cukup ke bagian bawah roket, reaksinya adalah gerakan roket ke arah yang berlawanan,” kata Marion.

Proses itu mengacu pada hukum gerak ketiga Isaac Newton bahwa setiap aksi menghasilkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Dengan kata lain, roket bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku di alam semesta.

Terkadang gaya tidak seimbang, yang kita lihat sebagai percepatan roket mendorong ke luar angkasa. Aturan gerak juga harus mempertimbangkan mekanika orbital. Di sekitar planet besar seperti Bumi, sederhananya, setiap kemungkinan ketinggian memiliki kecepatan tertentu.

Baca juga; 5 Pesawat Ruang Angkasa dengan Misi Menabrak Objek di Antariksa untuk Sains

Titik tertinggi orbit dikenal dengan periapsis dan titik terendah adalah apoapsis. NASA menjelaskan, roket hanya dapat meningkatkan periapsisnya dengan menyalakan mesinnya (atau dengan cara lain meningkatkan energinya) saat berada di apoapsis. Atau jika roket ingin menurunkan ketinggiannya, mereka perlu mengeluarkan energi (menyalakan mesin) pada periapsis.

Atmosfer bumi bertindak sebagai hambatan terus-menerus pada pesawat ruang angkasa dan Stasiun Luar Angkasa Internasional. Kondisi ini mengharuskan mereka untuk menembakkan mesin roket secara berkala untuk mencegah jatuh kembali ke Bumi. Jadi misi di semua orbit Bumi kecuali yang tertinggi harus membawa bahan bakar yang cukup untuk agar tidak jatuh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!