Mengenal Mikhail Kalashnikov, Perancang Senapan AK-47 Asal Rusia
Kamis, 28 April 2022 - 21:04 WIB
Pada akhirnya senjata legendaris ini pun lahir, tahun 1949, AK-47 menjadi senapan serbu Angkatan Darat Soviet. Senjata ini kemudian diadopsi negara lain dalam Pakta Warsawa, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan menjadi simbol revolusi di pelosok dunia seperti Vietnam, Afghanistan, Kolombia dan Mozambik - AK-47 bahkan ada di bendera Mozambik.
Senapan ini dianggap revolusioner pada zaman itu, dikarenakan senapan ini relatif mudah untuk diproduksi, pendek dan ringan, mudah digunakan, dan punya sedikit recoil (hentakan yang disebabkan oleh senjata api ketika ditembakan).
Senapan ini juga legendaris karena kehandalannya dalam kondisi berat dari hutan belantara yang basah hingga badai pasir Timur Tengah, dalam dingin dan panas ekstrim, proses perawatan senapan ini juga lebih mudah.
BACA JUGA : Ilmuwan Teliti Lalat dan Jangkrik untuk jadi Makanan Pokok Penduduk Bumi
Dengan keunggulan tersebut AK-47 menjadi senjata yang jumlahnya paling besar di dunia dan sempat menjadi senjata para pelaku terorisme. Penyandera yang menyerbu area Olimpiade di Munich, Jerman, pada 1972 menggunakan senapan Kalashnikov, pelaku penembakan massal di AS juga menggunakan versi semi-otomatis senapan ini dalam kejadian di Stockton, California, dan Dallas.
Dari 1949 hinga 1963, Kalashnikov terus mengerjakan varian AK-47 yang dimodernisasi dan ditingkatkan, yang paling terkenal di antaranya adalah AKM, RPK Kalashnikov, dan PK. Kalashnikov mendapat Gelar “Doctor of Technical Sciences' pada 1971, dan menjadi anggota dari 16 institusi pendidikan.
Untuk harga secara global bisa mencapai ratusan dolar AS, tapi beberapa AK-47 bisa dibeli dengan harga hingga USD50 atau sekitar Rp700 ribu. Produksi besar di seluruh dunia, terutama di negara dengan biaya buruh rendah, telah menekan harga senapan AK ini.
Senapan ini dianggap revolusioner pada zaman itu, dikarenakan senapan ini relatif mudah untuk diproduksi, pendek dan ringan, mudah digunakan, dan punya sedikit recoil (hentakan yang disebabkan oleh senjata api ketika ditembakan).
Senapan ini juga legendaris karena kehandalannya dalam kondisi berat dari hutan belantara yang basah hingga badai pasir Timur Tengah, dalam dingin dan panas ekstrim, proses perawatan senapan ini juga lebih mudah.
BACA JUGA : Ilmuwan Teliti Lalat dan Jangkrik untuk jadi Makanan Pokok Penduduk Bumi
Dengan keunggulan tersebut AK-47 menjadi senjata yang jumlahnya paling besar di dunia dan sempat menjadi senjata para pelaku terorisme. Penyandera yang menyerbu area Olimpiade di Munich, Jerman, pada 1972 menggunakan senapan Kalashnikov, pelaku penembakan massal di AS juga menggunakan versi semi-otomatis senapan ini dalam kejadian di Stockton, California, dan Dallas.
Dari 1949 hinga 1963, Kalashnikov terus mengerjakan varian AK-47 yang dimodernisasi dan ditingkatkan, yang paling terkenal di antaranya adalah AKM, RPK Kalashnikov, dan PK. Kalashnikov mendapat Gelar “Doctor of Technical Sciences' pada 1971, dan menjadi anggota dari 16 institusi pendidikan.
Untuk harga secara global bisa mencapai ratusan dolar AS, tapi beberapa AK-47 bisa dibeli dengan harga hingga USD50 atau sekitar Rp700 ribu. Produksi besar di seluruh dunia, terutama di negara dengan biaya buruh rendah, telah menekan harga senapan AK ini.
Lihat Juga :