Mengenal Novichok, Senjata Kimia Buatan Rusia Era Perang Dingin
Rabu, 23 Maret 2022 - 13:50 WIB
Racun ini termasuk dalam kelas senyawa yang disebut inhibitor kolinesterase yang digunakan dalam berbagai macam obat-obatan dan racun. Senyawa racun ini menyerang neutrotransmitter, senyawa kimia tubuh yang memiliki fungsi menyampaikan pesan dari satu sel saraf ke saraf lainnya yang berada di kelenjar, otot, atau bagian tubuh lainnya.
Para Ilmuwan yang terlibat dalam pembuatan Novichok ini menggambarkan bahwa racun tersebut sangat berbahaya dan dapat menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang yang serius. Racun ini bisa diatasi dengan bahan kimia atropin dan oksim, namun jika pengobatan berhasil pun korban tetap menderita kerusakan permanen.
Saat terpapar racun, gejala akan muncul dalam rentang waktu tiga puluh detik hingga dua menit. Gejala tersebut bisa meliputi kejang-kejang, kesulitan bernapas, tekanan darah tinggi, penurunan denyut jantung hingga henti jantung atau kematian.
BACA JUGA: Ilmuwan Akan Bangkitkan Kembali Burung Dodo dari Kematian
Melansir laman New York Times, racun ini juga pernah dicurigai dipakai dalam kasus Sergei V Skripal, pensiunan intelijen militer Rusia dan agen ganda untuk Inggris. Dia ditemukan tidak sadarkan diri di taman pada 4 Maret 2018 bersama putrinya dan menunjukkan gejala akibat racun Novichok.
Badan Intelijen Inggris mengidentifikasi zat tersebut sebagai Novichok dan menuduh Rusia berperan atas kejadian itu. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin membantah terlibat. Beberapa bulan sebelum kejadian, Putin menyatakan bahwa Rusia telah menghancurkan semua senjata kimianya.
Para Ilmuwan yang terlibat dalam pembuatan Novichok ini menggambarkan bahwa racun tersebut sangat berbahaya dan dapat menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang yang serius. Racun ini bisa diatasi dengan bahan kimia atropin dan oksim, namun jika pengobatan berhasil pun korban tetap menderita kerusakan permanen.
Saat terpapar racun, gejala akan muncul dalam rentang waktu tiga puluh detik hingga dua menit. Gejala tersebut bisa meliputi kejang-kejang, kesulitan bernapas, tekanan darah tinggi, penurunan denyut jantung hingga henti jantung atau kematian.
BACA JUGA: Ilmuwan Akan Bangkitkan Kembali Burung Dodo dari Kematian
Melansir laman New York Times, racun ini juga pernah dicurigai dipakai dalam kasus Sergei V Skripal, pensiunan intelijen militer Rusia dan agen ganda untuk Inggris. Dia ditemukan tidak sadarkan diri di taman pada 4 Maret 2018 bersama putrinya dan menunjukkan gejala akibat racun Novichok.
Badan Intelijen Inggris mengidentifikasi zat tersebut sebagai Novichok dan menuduh Rusia berperan atas kejadian itu. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin membantah terlibat. Beberapa bulan sebelum kejadian, Putin menyatakan bahwa Rusia telah menghancurkan semua senjata kimianya.
Lihat Juga :