Sungai Efrat dan Tigris Mengering Akibat Perubahan Iklim dan Ketegangan Politik
Kamis, 06 Januari 2022 - 05:29 WIB
Jay Famiglietti, peneliti utama studi ini dan ahli hidrologimenambahkan, tingkat penurunan intensif terjadi setelah kekeringan pada tahun 2007. Sekitar 60 persen penurunan debit air Sungai Tgris ini akibat pengambilan air secara terus menerus dari dalam tanah. (Baca juga; Laut Kaspia Mengering, Akibat Perubahan Iklim Ekstrem dan Siklus Alam yang Normal )
Perubahan iklim berkontribusi pada menyusutnya permukaan air Sungai Efrat, karena kenaikan suhu menyebabkan curah hujan yang tidak menentu. Laporan dari Kementerian Sumber Daya Air Pemerintah Irak dikutip dari The National News pada 2 Desember 2021, pada musim panas penurunan debit air Sungai Efrat mencapai 40 miliar meter kubik.
"Tingkat penurunan air (Sungai Efrat) ke Irak telah dimulai secara bertahap dan akan meningkat hingga 30 persen. Dengan penurunan 11 miliar meter kubik per tahun pada 2035," demikian laporan Kementerian Sumber Daya Air Irak. (Baca juga; Kiamat Sudah Dekat (3): Sungai Eufrat Mengering dan Gunung Emas Itu Nyata )
Kekeringan parah akan mempengaruhi negara itu pada tahun 2025, kata laporan itu, dengan Sungai Efrat hampir sepenuhnya mengering di selatan. Sementara Sungai Tigris berubah menjadi aliran air dengan sumber daya terbatas.
Menteri Sumber Daya Air Irak, Mahdi Rashid Al Hamdani, memprediksi kekurangan air akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang, terutama di provinsi timur Wasit. Laporan menunjukkan bahwa penduduk beberapa desa bersiap untuk pindah karena kelangkaan air dan pertanian yang tidak berkelanjutan.
“Dampaknya di Wasit sudah berimbas ke provinsi lain, seperti kota Maysan, Dhi Qar, dan Basra di selatan. Krisis kelangkaan air seharusnya tidak ditangani oleh kementerian saja, tetapi seluruh negeri,” kata Al Hamdani.
Pada awal Mei 2021, Pemerintah Suriah juga menyuarakan kekhawatiran terhadap penurunan yang dratis permukaan air Sungai Efrat. Kekeringan mengakibatkan pasokan air untuk Bendungan Tishrin dan Danau Al-Assad berkurang .
Dikutip dari Kantor Berita SANA, Suriah mengatakan, Turki mengurangi aliran air Sungai Efrat ke Suriah dari 500 meter kubik per detik menjadi 200 meter kubik per detik. Kondisi ini menyebabkan produksi listrik di Bendungan Tishin turun 70 persen sejak tahun lalu dan penurunan pasokan air untuk irigasi dan air minum.
Perubahan iklim berkontribusi pada menyusutnya permukaan air Sungai Efrat, karena kenaikan suhu menyebabkan curah hujan yang tidak menentu. Laporan dari Kementerian Sumber Daya Air Pemerintah Irak dikutip dari The National News pada 2 Desember 2021, pada musim panas penurunan debit air Sungai Efrat mencapai 40 miliar meter kubik.
"Tingkat penurunan air (Sungai Efrat) ke Irak telah dimulai secara bertahap dan akan meningkat hingga 30 persen. Dengan penurunan 11 miliar meter kubik per tahun pada 2035," demikian laporan Kementerian Sumber Daya Air Irak. (Baca juga; Kiamat Sudah Dekat (3): Sungai Eufrat Mengering dan Gunung Emas Itu Nyata )
Kekeringan parah akan mempengaruhi negara itu pada tahun 2025, kata laporan itu, dengan Sungai Efrat hampir sepenuhnya mengering di selatan. Sementara Sungai Tigris berubah menjadi aliran air dengan sumber daya terbatas.
Menteri Sumber Daya Air Irak, Mahdi Rashid Al Hamdani, memprediksi kekurangan air akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang, terutama di provinsi timur Wasit. Laporan menunjukkan bahwa penduduk beberapa desa bersiap untuk pindah karena kelangkaan air dan pertanian yang tidak berkelanjutan.
“Dampaknya di Wasit sudah berimbas ke provinsi lain, seperti kota Maysan, Dhi Qar, dan Basra di selatan. Krisis kelangkaan air seharusnya tidak ditangani oleh kementerian saja, tetapi seluruh negeri,” kata Al Hamdani.
Pada awal Mei 2021, Pemerintah Suriah juga menyuarakan kekhawatiran terhadap penurunan yang dratis permukaan air Sungai Efrat. Kekeringan mengakibatkan pasokan air untuk Bendungan Tishrin dan Danau Al-Assad berkurang .
Dikutip dari Kantor Berita SANA, Suriah mengatakan, Turki mengurangi aliran air Sungai Efrat ke Suriah dari 500 meter kubik per detik menjadi 200 meter kubik per detik. Kondisi ini menyebabkan produksi listrik di Bendungan Tishin turun 70 persen sejak tahun lalu dan penurunan pasokan air untuk irigasi dan air minum.
Lihat Juga :