Sungai Efrat dan Tigris Mengering Akibat Perubahan Iklim dan Ketegangan Politik

Kamis, 06 Januari 2022 - 05:29 WIB
Dikutip dari laman Suriah Enab Baladi pada 3 Mei 2021, Administrasi Otonomi Suriah Timur Laut, yang dikendalikan oleh Kurdi, mengumumkan bahwa permukaan air di Danau Assad turun tiga meter. Kurdi Suriah menuduh Ankara menahan lebih banyak air yang diperlukan untuk bendungannya..

Tetapi sumber diplomatik Turki mengatakan kepada AFP bahwa Turki tidak pernah mengurangi jumlah air yang dikeluarkan dari Sungai Efrat untuk tujuan politik atau lainnya". "Wilayah kami menghadapi salah satu periode kekeringan terburuk akibat perubahan iklim. Curah hujan di Turki selatan adalah terendah dalam 30 tahun terakhir,” kata sumber ini.



Analis Nicholas Heras mengatakan Turki memang memegang pengaruh atas Suriah dan Irak dengan membangun Bendungan Ataturk yang berukuran besar dan berjarak hanya 80 kilometer dari perbatasan Suriah. Bendungan ini selain itu kepentingan pembangkit listrik juga bisa digunakan untuk mengontrol debit air Sungai Efrat yang dialirkan menuju Suriah dan Irak.

Pada pertengahan Januari 1990, ketika fase pertama pembangunan bendungan selesai, Turki menahan seluruh aliran Sungai Eufrat selama sebulan untuk memulai pengisian waduk. Saat itu, Bendungan Atatürk telah memotong aliran dari Sungai Eufrat pada sekitar sepertiganya.

Suriah dan Irak mengaku mengalami kekurangan air yang ekstrem. Berbagai polemik soal ketersediaan air dari sungai tersebut selalu mencuat di antara tiga negara yang dilaluinya. Pembangunan DAM selalu menjadi permasalahan bagi negara-negara tersebut.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!