Kutukan Raja Tutankhamun, Berkembang di Antara Mitos dan Persaingan Terselubung
Minggu, 28 November 2021 - 15:01 WIB
"Kisah-kisah ini, yang ditulis oleh perempuan, menekankan pembukaan mumi sebagai metafora pemerkosaan. Pada gilirannya, cerita fiksi ini dibangun untuk mengutuk penghancuran dan pencurian warisan Mesir di masa kejayaan kolonialisme Barat," kata Jasmine Day kepada livescience.
Pendapat serupa juga disampaikan Ronald Fritze, seorang profesor sejarah di Athens State University di Alabama. Dia mengatakan, sihir atau kutukan mumi sudah tersebar luas sebelum penemuan makam Raja Tutankhamun. (Baca juga; 99 Tahun Penemuan Makam Raja Tutankhamun dan Kisah Misteri Kutukannya )
"Sejak zaman Yunani dan Romawi, Mesir sudah dikenal sebagai tanah misteri. Seiring waktu, orang Mesir kuno dikreditkan dengan segala macam pengetahuan supranatural dan magis,” kata Ronald Fritze yang menulis buku "Egyptomania: A History of Fascination, Obsession and Fantasy".
Fritze menjelaskan, ketika Mesir mulai terbuka dengan Barat setelah ekspedisi Napoleon, ada banyak orang yang tertarik dengan mumi dan banyak orang-orang kaya bersedia membiayainya. Namun, tidak semua suka dengan hal itu. "Banyak orang terganggu oleh campur tangan semacam ini terhadap orang mati," ujarnya.
Pada saat itu, cerita fiksi tentang kutukan yang terkait dengan mumi mulai muncul dalam karya sastra. Fritze mencatat bahwa penulis Irlandia Bram Stoker, yang paling terkenal dengan novel "Dracula" -nya, menerbitkan sebuah buku tahun 1903 berjudul "The Jewel of the Seven Stars," diceritakan para arkeolog zaman modern menderita kutukan mumi.
Pendapat serupa juga disampaikan Ronald Fritze, seorang profesor sejarah di Athens State University di Alabama. Dia mengatakan, sihir atau kutukan mumi sudah tersebar luas sebelum penemuan makam Raja Tutankhamun. (Baca juga; 99 Tahun Penemuan Makam Raja Tutankhamun dan Kisah Misteri Kutukannya )
"Sejak zaman Yunani dan Romawi, Mesir sudah dikenal sebagai tanah misteri. Seiring waktu, orang Mesir kuno dikreditkan dengan segala macam pengetahuan supranatural dan magis,” kata Ronald Fritze yang menulis buku "Egyptomania: A History of Fascination, Obsession and Fantasy".
Fritze menjelaskan, ketika Mesir mulai terbuka dengan Barat setelah ekspedisi Napoleon, ada banyak orang yang tertarik dengan mumi dan banyak orang-orang kaya bersedia membiayainya. Namun, tidak semua suka dengan hal itu. "Banyak orang terganggu oleh campur tangan semacam ini terhadap orang mati," ujarnya.
Pada saat itu, cerita fiksi tentang kutukan yang terkait dengan mumi mulai muncul dalam karya sastra. Fritze mencatat bahwa penulis Irlandia Bram Stoker, yang paling terkenal dengan novel "Dracula" -nya, menerbitkan sebuah buku tahun 1903 berjudul "The Jewel of the Seven Stars," diceritakan para arkeolog zaman modern menderita kutukan mumi.
Lihat Juga :