Ilmuwan AS Sebut Ukuran Otak Manusia Menyusut, Pertanda Apa?
Kamis, 18 November 2021 - 10:04 WIB
“Fakta mengejutkan tentang manusia saat ini adalah bahwa otak kita lebih kecil dibandingkan dengan otak nenek moyang Pleistosen kita. Mengapa otak kita mengecil menjadi misteri besar bagi para antropolog,” jelas Dr Jeremy DeSilva. (Baca juga; Ilmuwan Buktikan Keberadaan Hibrid Manusia Purba dari 50.000 Tahun Lalu )
Pleistosen adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 2.588.000 hingga 11.500 tahun yang lalu. Untuk menguraikan misteri ini, tim peneliti dari berbagai bidang akademik berangkat untuk mempelajari pola sejarah evolusi otak manusia.
Para peneliti menerapkan analisis titik perubahan pada kumpulan data 985 fosil dan tengkorak manusia modern. Mereka menemukan bahwa ukuran otak manusia meningkat pada masa 2,1 juta tahun yang lalu dan 1,5 juta tahun yang lalu atau selama kala Pleistosen.
Namun, ukurannya mulai berkurang sekitar 3.000 tahun yang lalu pada kala Holosen. Kala Holosen ditandai berakhirnya zaman glasial yaitu sekitar 11,7 ribu tahun lalu.
Ketika itu, permukaan air laut naik dan menggenangi paparan Sunda dan Paparan Sahul. Muncullah Kepulauan Indonesia dalam wujudnya yang sekarang. “Memahami mengapa otak bertambah atau berkurang, sulit dipelajari jika hanya dengan menggunakan fosil,” jelas Traniello.
Pleistosen adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 2.588.000 hingga 11.500 tahun yang lalu. Untuk menguraikan misteri ini, tim peneliti dari berbagai bidang akademik berangkat untuk mempelajari pola sejarah evolusi otak manusia.
Para peneliti menerapkan analisis titik perubahan pada kumpulan data 985 fosil dan tengkorak manusia modern. Mereka menemukan bahwa ukuran otak manusia meningkat pada masa 2,1 juta tahun yang lalu dan 1,5 juta tahun yang lalu atau selama kala Pleistosen.
Namun, ukurannya mulai berkurang sekitar 3.000 tahun yang lalu pada kala Holosen. Kala Holosen ditandai berakhirnya zaman glasial yaitu sekitar 11,7 ribu tahun lalu.
Ketika itu, permukaan air laut naik dan menggenangi paparan Sunda dan Paparan Sahul. Muncullah Kepulauan Indonesia dalam wujudnya yang sekarang. “Memahami mengapa otak bertambah atau berkurang, sulit dipelajari jika hanya dengan menggunakan fosil,” jelas Traniello.
(wib)
Lihat Juga :