Masker Bisa Melindungi saat Pandemi COVID-19, Namun Berimplikasi dalam Interaksi Sosial dan Komunikasi

Selasa, 09 November 2021 - 15:17 WIB
“Studi kami menunjukkan bahwa ketika gerakan bagian bawah wajah terganggu atau tersembunyi, ini bisa menjadi masalah, terutama untuk interaksi sosial yang positif dan kemampuan untuk berbagi emosi,” kata Dr Ross Vanderwert menjelaskan penelitiannya yang dimuat dalam jurnal Cognitive, Affective, and Behavioral Neuroscience.

Ketika penelitian, para ilmuwan merekam aktivitas otak 38 individu melalui elektroensefalogram untuk melihat respons ketika menonton video ekspresi ketakutan, bahagia, dan marah. Efeknya pada proses yang dikenal sebagai pencerminan saraf, aktivitas dalam sistem motorik aktif mengamati tindakan atau ekspresi orang lain.

Pencerminan saraf memfasilitasi tugas-tugas sederhana seperti koordinasi tangan-mata dan tugas-tugas yang lebih kompleks seperti memahami emosi orang lain. Hasilnya, peserta yang dapat dengan bebas menggerakkan wajah mereka menunjukkan pencerminan saraf yang signifikan ketika mengamati ekspresi emosional.

“Temuan kami menunjukkan bahwa memproses atau mendeteksi ekspresi wajah adalah tugas yang sangat menantang. Bahwa otak membutuhkan lebih banyak sinyal ekspresi wajah untuk mendukung sistem visual dalam memahami emosi orang lain. Pencerminan atau simulasi emosi orang lain ini dapat menimbulkan empati,” kata Dr Magdalena Rychlowska, dari Queen's University Belfast's School of Psychology.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!