Untuk Ritual Kematian, Orang China Sudah Minum Bir Sejak 9.000 Tahun Lalu
Kamis, 02 September 2021 - 23:05 WIB
Beberapa guci memiliki ukuran yang mirip dengan gelas, sementara tujuh di antaranya tampak seperti teko Hu berleher panjang, yang digunakan untuk minum alkohol pada periode tersebut.
"Melalui analisis residu pot dari Qiaotou, hasil kami mengungkapkan bahwa bejana tembikar digunakan untuk menampung bir," kata antropolog Jiajing Wang dari Dartmouth College, New Hampshire seperti dikutip Science Alert, Kamis (2/9/2021).
Wang mengatakan, bir yang ditemukan ini tidak seperti yang dikenal saat ini. Analisis pot melihat sampel pati, fitolit (sisa tanaman yang diawetkan) dan jamur yang ditemukan dari tanah sekitarnya. Jejak butiran pati, fitolit, jamur dan ragi yang ditemukan di dalam pot semuanya konsisten dengan proses fermentasi bir.
"Tampaknya nasi, biji-bijian, dan umbi-umbian yang tidak dikenal digunakan untuk memasak minuman keras. Sekam padi dan bagian tanaman lainnya mungkin telah ditambahkan untuk membantu fermentasi," kata Wang.
Karena sisa-sisanya berasal dari masa lalu ketika beras baru mulai digunakan sebagai makanan pokok, sulit bagi para arkeolog untuk memastikan bagaimana alkohol diproduksi oleh komunitas kuno ini. "Kami belum bisa memastikan karena fermentasi dapat terjadi secara alami," kata Wang.
"Melalui analisis residu pot dari Qiaotou, hasil kami mengungkapkan bahwa bejana tembikar digunakan untuk menampung bir," kata antropolog Jiajing Wang dari Dartmouth College, New Hampshire seperti dikutip Science Alert, Kamis (2/9/2021).
Wang mengatakan, bir yang ditemukan ini tidak seperti yang dikenal saat ini. Analisis pot melihat sampel pati, fitolit (sisa tanaman yang diawetkan) dan jamur yang ditemukan dari tanah sekitarnya. Jejak butiran pati, fitolit, jamur dan ragi yang ditemukan di dalam pot semuanya konsisten dengan proses fermentasi bir.
"Tampaknya nasi, biji-bijian, dan umbi-umbian yang tidak dikenal digunakan untuk memasak minuman keras. Sekam padi dan bagian tanaman lainnya mungkin telah ditambahkan untuk membantu fermentasi," kata Wang.
Karena sisa-sisanya berasal dari masa lalu ketika beras baru mulai digunakan sebagai makanan pokok, sulit bagi para arkeolog untuk memastikan bagaimana alkohol diproduksi oleh komunitas kuno ini. "Kami belum bisa memastikan karena fermentasi dapat terjadi secara alami," kata Wang.
Lihat Juga :