Fisikawan Capai Terobosan Baru Fusi Nuklir, Bisa Jadi Sumber Energi Baru
Rabu, 18 Agustus 2021 - 09:29 WIB
"Hasil ini merupakan kemajuan bersejarah untuk penelitian fusi kurungan inersia," kata Kim Budil, direktur Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, yang mengoperasikan Fasilitas Pengapian Nasional di California, tempat eksperimen berlangsung bulan ini sepertidikutip Sciencealert, Rabu (18/8/2021).
Fusi nuklir dianggap oleh beberapa ilmuwan sebagai energi potensial masa depan karena sedikit menghasilkan limbah dan tidak ada gas rumah kaca. Ini berbeda dari fisi, teknik yang saat ini digunakan di pembangkit listrik tenaga nuklir, di mana ikatan inti atom berat diputus untuk melepaskan energi.
BACA JUGA: Ini Deretan Mobil yang Digunakan Soekarno di Awal Kemerdekaan
Dalam proses fusi, dua inti atom ringan diikat untuk membuatnya memiliki gaya. Dalam percobaan ini, para ilmuwan menggunakan dua isotop hidrogen hingga menghasilkan helium. Ini adalah proses yang bekerja di bintang-bintang, termasuk Matahari kita.
"Tim NIF telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Ini adalah kemajuan paling signifikan dalam fusi inersia sejak dimulai pada tahun 1972," kata Profesor Steven Rose, co-direktur pusat penelitian di bidang ini di Imperial College London.
Fusi nuklir dianggap oleh beberapa ilmuwan sebagai energi potensial masa depan karena sedikit menghasilkan limbah dan tidak ada gas rumah kaca. Ini berbeda dari fisi, teknik yang saat ini digunakan di pembangkit listrik tenaga nuklir, di mana ikatan inti atom berat diputus untuk melepaskan energi.
BACA JUGA: Ini Deretan Mobil yang Digunakan Soekarno di Awal Kemerdekaan
Dalam proses fusi, dua inti atom ringan diikat untuk membuatnya memiliki gaya. Dalam percobaan ini, para ilmuwan menggunakan dua isotop hidrogen hingga menghasilkan helium. Ini adalah proses yang bekerja di bintang-bintang, termasuk Matahari kita.
"Tim NIF telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Ini adalah kemajuan paling signifikan dalam fusi inersia sejak dimulai pada tahun 1972," kata Profesor Steven Rose, co-direktur pusat penelitian di bidang ini di Imperial College London.
(ysw)
Lihat Juga :