Bumi Berdenyut 26 Detik Sekali, Kondisi Genting atau Fenomena Biasa?

Jum'at, 19 Februari 2021 - 07:57 WIB
Pada tahun 1962, seorang peneliti bernama Jack Oliver menerbitkan sebuah makalah di mana dia mendokumentasikan Bumi berdenyut 26 detik sekali untuk pertama kalinya. Foto/Ist
JAKARTA - Saat seluruh dunia menjalankan kegiataannya setiap hari, hanya sedikit masyarakat yang tahu bahwa Bumi berdenyut 26 detik sekali . Dikenal sebagai 'mikroseisme', intensitasnya kurang untuk bisa kita rasakan. Namun itu cukup untuk perangkat seismologi untuk mendeteksi dan mengukur. Baca juga: Berdenyut 26 Detik Sekali, Ahli Sebut Bumi dalam Keadaan Genting

Jadi apa yang menyebabkan 'denyut' sunyi yang tidak dapat dirasakan miliaran orang di seluruh planet ini? Jawabannya adalah pertanyaan yang diperdebatkan dengan beberapa hipotesis yang mendukung atau saling bersaing. Asal usul perdebatan, bagaimanapun, kembali beberapa dekade ke penemuannya di tahun 1960-an.



Menemukan Denyutan

Pada tahun 1962, seorang peneliti bernama Jack Oliver menerbitkan sebuah makalah di mana dia mendokumentasikan mikroseisme untuk pertama kalinya. Dia menyimpulkan bahwa denyut nadi berasal dari suatu tempat di ekuator atau Samudra Atlantik selatan. Oliver juga mencatat bahwa denyut nadi lebih kuat selama bulan-bulan musim panas di Belahan Bumi Utara; saat musim dingin di Belahan Bumi Selatan.

Mike Ritzwoller, seismolog di University of Colorado, mengatakan kepada Discover, seperti dilansir ibtimes.sg, "Jack tidak memiliki sumber daya pada tahun 1962 yang kami miliki pada tahun 2005 -dia tidak memiliki seismometer digital, dia berurusan dengan catatan kertas." Ritzwoller sendiri kemudian mengalami sendiri fenomena tersebut beberapa dekade kemudian.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!