Hacker Korut Obrak-abrik Keamanan Siber Perusahaan Vaksin AstraZeneca
Rabu, 02 Desember 2020 - 17:17 WIB
Misi Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa tidak menanggapi permintaan komentar. Pyongyang sebelumnya membantah melakukan serangan siber. Mereka sendiri tidak memiliki jalur kontak langsung kepada media asing.
AstraZeneca, yang muncul sebagai salah satu dari tiga pengembang vaksin COVID-19 teratas, juga menolak berkomentar tentang informasi genting ini. Sumber, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas informasi non-publik, mengatakan, alat dan teknik yang digunakan dalam serangan itu menunjukkan mereka adalah bagian dari kampanye peretasan yang sedang berlangsung yang oleh pejabat AS dan peneliti keamanan siber dikaitkan dengan Korea Utara.
Kampanye tersebut sebelumnya berfokus pada perusahaan pertahanan dan organisasi media, tetapi beralih ke target terkait COVID dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan dunia maya terhadap badan kesehatan, ilmuwan vaksin, dan pembuat obat telah melonjak selama pandemi COVID-19 ketika kelompok peretas yang didukung negara dan kriminal berebut untuk mendapatkan penelitian dan informasi terbaru tentang wabah tersebut.
Pejabat Barat, mengatakan, informasi apa pun yang dicuri dapat dijual untuk mendapatkan keuntungan, digunakan untuk memeras para korban, atau memberi pemerintah asing keuntungan strategis yang berharga saat mereka berjuang untuk mengatasi penyakit yang telah menewaskan 1,4 juta orang di seluruh dunia.
AstraZeneca, yang muncul sebagai salah satu dari tiga pengembang vaksin COVID-19 teratas, juga menolak berkomentar tentang informasi genting ini. Sumber, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas informasi non-publik, mengatakan, alat dan teknik yang digunakan dalam serangan itu menunjukkan mereka adalah bagian dari kampanye peretasan yang sedang berlangsung yang oleh pejabat AS dan peneliti keamanan siber dikaitkan dengan Korea Utara.
Kampanye tersebut sebelumnya berfokus pada perusahaan pertahanan dan organisasi media, tetapi beralih ke target terkait COVID dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan dunia maya terhadap badan kesehatan, ilmuwan vaksin, dan pembuat obat telah melonjak selama pandemi COVID-19 ketika kelompok peretas yang didukung negara dan kriminal berebut untuk mendapatkan penelitian dan informasi terbaru tentang wabah tersebut.
Pejabat Barat, mengatakan, informasi apa pun yang dicuri dapat dijual untuk mendapatkan keuntungan, digunakan untuk memeras para korban, atau memberi pemerintah asing keuntungan strategis yang berharga saat mereka berjuang untuk mengatasi penyakit yang telah menewaskan 1,4 juta orang di seluruh dunia.
Lihat Juga :