Manusia Bisa Mengisi Daya Ponsel Dari Gerakan Tubuh di Masa Depan

Senin, 09 November 2020 - 23:47 WIB
Para ilmuwan telah menyadari sifat piezoelektrik pada nilon sejak 1980-an dan fakta bahwa bahan ini bebas timbal dan tidak beracun membuatnya sangat menarik. Namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana menyiapkan serat nilon yang mempertahankan sifat piezoelektriknya.

Ketika berbentuk polimer mentah, nilon adalah bubuk putih yang dapat dicampur dengan bahan lain (alami atau buatan manusia). Bahan kemudian dicetak menjadi berbagai produk, mulai dari pakaian, bulu sikat gigi hingga kemasan makanan dan suku cadang mobil.

Baca juga : Duet Maut Jerman dan Brasil Hasilkan Porsche dan Pesawat Jet Super Ekslusif

Nilon akan menjadi Piezoelektrik ketika bahan tersebut direduksi menjadi bentuk kristal tertentu. Metode yang dikenal untuk membuat kristal nilon ini adalah dengan melelehkan, mendinginkan dengan cepat, dan meregangkan nilon tersebut.

Namun, proses itu menghasilkan lempengan tebal berbentuk piezoelektrik tapi tidak cocok untuk pakaian. Nilon perlu direntangkan ke seutas benang untuk ditenun menjadi pakaian atau ke film tipis untuk digunakan dalam perangkat elektronik yang dapat dikenakan.

Sayangnya, hambatan memproduksi film nilon piezoelektrik tipis tidak dapat diatasi. Antusiasme awal untuk membuat pakaian nilon piezoelektrik pun menurun sehingga penelitian di bidang ini hampir terhenti pada tahun 1990-an.

Beruntung Profesor Asadi dan Anwar, seorang insinyur tekstil mampu menemukan pendekatan baru untuk memproduksi film tipis nilon piezoelektrik. Mereka lebih memilih untuk melarutkan bubuk nilon dalam pelarut asam daripada melelehkannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!