Kejahatan AI Tidak Terkendali, Eropa Awasi Ketat Deepfake

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:49 WIB
Berbeda dengan berita palsu biasa—yang dapat dideteksi dengan membandingkan sumber atau konteks—deepfake secara langsung menipu indra manusia karena kecanggihannya yang semakin meningkat.

Menurut kelompok riset Info-Tech, ini adalah generasi baru serangan siber yang mampu melewati banyak langkah keamanan tradisional dengan "menyusup" ke dalam kesadaran manusia, bukan sistem teknis.

Para ahli memperingatkan bahwa risiko kehilangan data, penipuan keuangan, manipulasipolitik, dan kerusakan reputasi organisasi meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Selain risiko keamanan informasi, deepfake juga disalahgunakan secara serius dalam pelecehan seksual. Sebuah laporan PBB menunjukkan bahwa sebagian besar konten deepfake daring bersifat pornografi, dengan sekitar 98% video deepfake diidentifikasi sebagai pornografi tanpa persetujuan – dan hampir semuanya menargetkan perempuan.

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan bahwa setidaknya 1,2 juta anak muda telah menjadi korban pembuatan gambar palsu yang berisi konten seksual eksplisit dalam setahun terakhir.

Di beberapa negara Eropa, penelitian menunjukkan bahwa hampir seperempat dari responden telah terpapar "deepnude"—gambar telanjang palsu yang beredar di platform seperti Instagram, Snapchat, atau X.

Yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari 60% dari mereka yang pernah menggunakan alat ini mengakui telah mencoba membuat konten serupa, yang mencerminkan tren normalisasi perilaku berbahaya di lingkungan digital.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!