Waspada Lebaran Banyak Penipuan Digital, Jangan Sampai THR Anda Lenyap!
Selasa, 17 Maret 2026 - 11:23 WIB
Mereka menunggangi momentum tingginya transaksi belanja, donasi amal fiktif, hingga pencairan THR menjelang Idul Fitri.
Patrick mengatakan, AI digerakkan untuk menciptakan deepfake, kloning suara (voice cloning), hingga pesan phishing dengan gaya bahasa yang sangat natural seolah resmi dari institusi keuangan.
“Batas antara realitas dan penipuan menjadi bias. Modusnya menjamur tak terkendali: mulai dari promo diskon Lebaran palsu, undian mobil, emas, tiket umrah abal-abal, hingga penyebaran file APK berkedok kurir paket dan lowongan kerja paruh waktu berkomisi tinggi,” beber Patrick.
Ironisnya, di saat masyarakat dituntut untuk waspada ekstra, sektor pemerintah justru menjadi entitas yang paling babak belur.
Dalam periode pemantauan singkat antara 18 Februari hingga 13 Maret 2026, instansi pemerintah mencetak rekor kelam sebagai target serangan terbanyak dengan total 56 insiden, yang didominasi kebocoran data dan perusakan situs.
Jika sistem negara saja dengan mudah diobrak-abrik, bagaimana dengan sektor pendidikan, layanan keuangan, logistik, perdagangan, dan organisasi sosial yang juga masuk dalam daftar korban?
Merespons anomali pasar kejahatan 2026 ini, ITSEC merumuskan lima langkah pertahanan logis yang tidak bisa ditawar:
(1) Verifikasi ketat setiap tautan, nomor rekening, atau identitas penerima QRIS sebelum transaksi.
Patrick mengatakan, AI digerakkan untuk menciptakan deepfake, kloning suara (voice cloning), hingga pesan phishing dengan gaya bahasa yang sangat natural seolah resmi dari institusi keuangan.
“Batas antara realitas dan penipuan menjadi bias. Modusnya menjamur tak terkendali: mulai dari promo diskon Lebaran palsu, undian mobil, emas, tiket umrah abal-abal, hingga penyebaran file APK berkedok kurir paket dan lowongan kerja paruh waktu berkomisi tinggi,” beber Patrick.
Ironisnya, di saat masyarakat dituntut untuk waspada ekstra, sektor pemerintah justru menjadi entitas yang paling babak belur.
Dalam periode pemantauan singkat antara 18 Februari hingga 13 Maret 2026, instansi pemerintah mencetak rekor kelam sebagai target serangan terbanyak dengan total 56 insiden, yang didominasi kebocoran data dan perusakan situs.
Jika sistem negara saja dengan mudah diobrak-abrik, bagaimana dengan sektor pendidikan, layanan keuangan, logistik, perdagangan, dan organisasi sosial yang juga masuk dalam daftar korban?
Merespons anomali pasar kejahatan 2026 ini, ITSEC merumuskan lima langkah pertahanan logis yang tidak bisa ditawar:
(1) Verifikasi ketat setiap tautan, nomor rekening, atau identitas penerima QRIS sebelum transaksi.
Lihat Juga :