Dibobol 1.000 Kasus Sehari: Mengapa Penipuan Digital di Indonesia 4 Kali Lipat Lebih Ganas?
Jum'at, 13 Maret 2026 - 15:05 WIB
Menganalisis tren kejahatan siber 2026, pendekatannya telah bergeser. Para penipu tak lagi repot meretas sistem perbankan yang berlapis baja.
Mereka mengincar target yang lebih mudah: meretas psikologis manusia. Modus utamanya adalah mengirimkan invoice (tagihan) palsu, pesanan pembelian fiktif, atau dokumen bodong melalui email maupun WhatsApp.
"Pelaku memanfaatkan rasa panik dan urgensi agar korban tidak sempat melakukan verifikasi," ungkap Marshall Pribadi, CEO & Co-Founder Privy. Penjahat menciptakan narasi mendesak yang memaksa korban mentransfer uang tanpa sempat berpikir rasional.
1. Cermati Sumber Dokumen: Periksa detail alamat pengirim. Perbedaan satu tanda baca seperti titik atau koma pada email sering menjadi jebakan. Jika ada yang janggal, segera matikan rasa sungkan dan konfirmasi ke instansi resmi.
Mereka mengincar target yang lebih mudah: meretas psikologis manusia. Modus utamanya adalah mengirimkan invoice (tagihan) palsu, pesanan pembelian fiktif, atau dokumen bodong melalui email maupun WhatsApp.
"Pelaku memanfaatkan rasa panik dan urgensi agar korban tidak sempat melakukan verifikasi," ungkap Marshall Pribadi, CEO & Co-Founder Privy. Penjahat menciptakan narasi mendesak yang memaksa korban mentransfer uang tanpa sempat berpikir rasional.
Tinggalkan Tanda Tangan 'Tempelan'
Celah terbesar dari ratusan ribu kasus ini bermula dari kebiasaan lama: mempercayai keaslian dokumen hanya dari tampilan visual. Menyalin logo instansi dan menempelkan gambar tanda tangan (hasil scan) ke dalam PDF sangatlah mudah. Untuk itu, Marshall membagikan tiga langkah logis untuk menangkalnya:1. Cermati Sumber Dokumen: Periksa detail alamat pengirim. Perbedaan satu tanda baca seperti titik atau koma pada email sering menjadi jebakan. Jika ada yang janggal, segera matikan rasa sungkan dan konfirmasi ke instansi resmi.
Lihat Juga :