China Ciptakan Kulit Buatan Supaya Robot bisa Merasakan Nyeri dan Kesakitan

Jum'at, 02 Januari 2026 - 10:39 WIB
Jika kulit mengalami kerusakan atau sobek, pulsa listrik periodik akan berhenti total. Hal ini memungkinkan robot untuk segera menyadari adanya "luka" dan mengidentifikasi lokasi spesifik kerusakan tersebut secara presisi.

Masa Depan Robot Layanan

Pengembangan ini memiliki implikasi pasar yang masif, terutama di tahun 2026 di mana robot humanoid mulai bermigrasi dari pabrik tertutup menuju ruang publik, rumah sakit, dan rumah tangga.

"Desain ini secara signifikan meningkatkan kemampuan sentuhan robot, keselamatan, dan interaksi manusia-robot yang intuitif untuk robot layanan yang empatik," tulis tim peneliti dalam laporannya.

Dengan kemampuan mendeteksi cedera dan bereaksi terhadap rasa sakit, robot menjadi lebih aman beroperasi di dekat manusia. Risiko tabrakan tak sengaja yang melukai orang atau merusak komponen mahal robot dapat diminimalisasi secara drastis.

Selain itu, efisiensi perawatan juga menjadi sorotan. Kulit ini dirancang dengan sistem tambalan modular bermagnet. Artinya, jika ada bagian kulit yang rusak parah, teknisi tidak perlu membongkar seluruh lengan robot. Bagian yang "luka" cukup dilepas dan diganti dengan modul baru dalam hitungan detik, mirip seperti mengganti plester luka, namun pada mesin berteknologi tinggi.

Saat ini, tim peneliti sedang berfokus meningkatkan sensitivitas sistem agar mampu memproses banyak titik sentuhan secara bersamaan (multiple simultaneous touch points). Jika ini tercapai, robot masa depan tidak hanya akan pintar secara kognitif, tetapi juga peka secara fisik, mengaburkan batas antara mesin dan organisme hidup.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!