Babak Baru Tambak Udang Rakyat: Mampukah Aquarev Jadi Jawaban Tanpa Mengulang Dosa Startup Raksasa?
Sabtu, 19 Juli 2025 - 09:03 WIB
Ini adalah perbedaan fundamental. Alih-alih membiarkan petambak berjuang sendiri, Aquarev membangun sistem di mana keberhasilan dan kegagalan ditanggung bersama.
Mereka turun langsung melakukan renovasi tambak, memberikan pendampingan teknis di lapangan, dan baru kemudian melapisi semuanya dengan teknologi pemantauan digital dan transparansi rantai pasok.
Aspek lingkungan juga tidak ditinggalkan. Mereka secara aktif merehabilitasi kawasan mangrove, sebuah langkah yang seringkali diabaikan dalam model bisnis yang hanya mengejar profit.
Kisah dari Pesisir Pasangkayu: Dari Nol Menjadi Puluhan Ton
Janji manis ini mulai menunjukkan bukti nyata di pesisir Pasangkayu, Sulawesi Barat. Di sana, seorang petambak veteran, H. Siala, dan putranya, Muchtar, merasakan langsung dampak model Aquarev. Muchtar, yang awalnya tak punya pengalaman di dunia tambak, kembali ke kampung halaman dan belajar dari nol.
"Saya belajar bahwa tambak udang bukan hanya soal teknis, tetapi soal membangun kepercayaan dan kerja sama erat dengan tim di lapangan,” ujar Muchtar, menggarisbawahi pentingnya sentuhan manusia dalam model ini.
Hasilnya? Sangat konkret. Tambak mereka kini mampu mencatatkan produktivitas rata-rata 38,5 ton per hektare.
Mereka turun langsung melakukan renovasi tambak, memberikan pendampingan teknis di lapangan, dan baru kemudian melapisi semuanya dengan teknologi pemantauan digital dan transparansi rantai pasok.
Aspek lingkungan juga tidak ditinggalkan. Mereka secara aktif merehabilitasi kawasan mangrove, sebuah langkah yang seringkali diabaikan dalam model bisnis yang hanya mengejar profit.
Kisah dari Pesisir Pasangkayu: Dari Nol Menjadi Puluhan Ton
Janji manis ini mulai menunjukkan bukti nyata di pesisir Pasangkayu, Sulawesi Barat. Di sana, seorang petambak veteran, H. Siala, dan putranya, Muchtar, merasakan langsung dampak model Aquarev. Muchtar, yang awalnya tak punya pengalaman di dunia tambak, kembali ke kampung halaman dan belajar dari nol."Saya belajar bahwa tambak udang bukan hanya soal teknis, tetapi soal membangun kepercayaan dan kerja sama erat dengan tim di lapangan,” ujar Muchtar, menggarisbawahi pentingnya sentuhan manusia dalam model ini.
Hasilnya? Sangat konkret. Tambak mereka kini mampu mencatatkan produktivitas rata-rata 38,5 ton per hektare.
Lihat Juga :