Meta Sebut Asia Tenggara Jadi Pusat Kejahatan Penipuan Online
Selasa, 26 November 2024 - 06:46 WIB
Meta mengungkapkan bahwa pusat-pusat penipuan ini memikat warga lokal dengan iklan lowongan kerja palsu dan kemudian memaksa mereka melakukan penipuan daring, seperti skema pig-butchering, sering kali di bawah ancaman kekerasan fisik.
“Kompleks kriminal ini memaksa pekerja mereka melakukan berbagai aktivitas jahat, mulai dari penipuan cryptocurrency, perjudian, pinjaman, dan investasi (seperti pig-butchering), hingga penipuan dengan menyamar sebagai pemerintah atau pihak lain,” ungkap Meta.
“Kami mengetahui ini adalah organisasi kriminal yang sangat gigih dan memiliki sumber daya besar, yang mana terus mengembangkan taktik mereka untuk menghindari deteksi, termasuk oleh penegak hukum.”
Skema pig-butchering adalah penipuan investasi di mana pelaku membangun hubungan pribadi dengan korban secara daring sebelum meyakinkan mereka untuk berinvestasi dalam skema cryptocurrency palsu.
Para penipu sering menargetkan korban melalui aplikasi kencan dan media sosial lainnya. Mereka menciptakan persona yang menipu, sering kali menggambarkan diri mereka sebagai orang lajang yang menarik demi menarik korban potensial.
Korban “mungkin diizinkan menarik sejumlah kecil uang untuk membangun kepercayaan, tetapi begitu mereka mulai meminta kembali ‘investasi’ mereka atau tidak memiliki dana lagi untuk dikirim, para penipu yang berbasis di luar negeri biasanya menghilang bersama semua uang tersebut,” jelas Meta.
“Kompleks kriminal ini memaksa pekerja mereka melakukan berbagai aktivitas jahat, mulai dari penipuan cryptocurrency, perjudian, pinjaman, dan investasi (seperti pig-butchering), hingga penipuan dengan menyamar sebagai pemerintah atau pihak lain,” ungkap Meta.
“Kami mengetahui ini adalah organisasi kriminal yang sangat gigih dan memiliki sumber daya besar, yang mana terus mengembangkan taktik mereka untuk menghindari deteksi, termasuk oleh penegak hukum.”
Skema pig-butchering adalah penipuan investasi di mana pelaku membangun hubungan pribadi dengan korban secara daring sebelum meyakinkan mereka untuk berinvestasi dalam skema cryptocurrency palsu.
Para penipu sering menargetkan korban melalui aplikasi kencan dan media sosial lainnya. Mereka menciptakan persona yang menipu, sering kali menggambarkan diri mereka sebagai orang lajang yang menarik demi menarik korban potensial.
Korban “mungkin diizinkan menarik sejumlah kecil uang untuk membangun kepercayaan, tetapi begitu mereka mulai meminta kembali ‘investasi’ mereka atau tidak memiliki dana lagi untuk dikirim, para penipu yang berbasis di luar negeri biasanya menghilang bersama semua uang tersebut,” jelas Meta.
Lihat Juga :