Selama Hampir 40 Tahun, Pemahaman Kita tentang Uranus Ternyata Salah!

Sabtu, 16 November 2024 - 16:47 WIB
"Jika Voyager 2 tiba beberapa hari sebelumnya, ia akan mengamati magnetosfer yang sama sekali berbeda di Uranus," kata Jamie Jasinski, penulis utama studi tersebut dan fisikawan plasma ruang angkasa di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA. "Wahana antariksa melihat Uranus dalam kondisi yang hanya terjadi sekitar 4% dari waktu."

Medan Magnet dan Sabuk Radiasi

Medan magnet terbentuk di sekitar planet karena pergerakan material di dalam inti cairnya, dan berfungsi sebagai perisai dari semburan plasma yang dikenal sebagai angin matahari yang diluncurkan dari matahari. Ketika radiasi partikel matahari menghantam magnetosfer planet, ia terperangkap oleh garis medan magnet dan disalurkan ke dalam kantong yang disebut sabuk radiasi.

Sabuk radiasi Uranus, bersama dengan medan magnetnya yang tidak simetris, membingungkan para ilmuwan ketika pembacaan pertama dari Voyager 2 muncul. Magnetosfer planet ini dipenuhi dengan sabuk radiasi elektron yang intensitasnya hanya kalah dari Jupiter. Namun, bagian lain dari medan tersebut kosong dari plasma, menunjukkan tidak adanya sumber yang jelas yang memasok sabuk radiasi.

Kesimpulan yang Salah tentang Bulan-bulan Uranus

Kurangnya plasma di tempat lain juga membuat para ilmuwan menyimpulkan bahwa ion air tidak diproduksi oleh lima bulan utama Uranus, empat di antaranya terbungkus es.

Analisis Ulang dan Temuan Baru

Dengan menganalisis ulang data Voyager 2 dengan mempertimbangkan ledakan angin matahari yang tercatat, para peneliti menemukan bahwa, tepat sebelum Voyager 2 melintas, angin matahari mendorong plasma keluar dari magnetosfer Uranus, membuatnya sementara berubah bentuk dan menyuntikkan elektron ke dalam sabuk radiasinya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!