Ini Rekomendasi Rumah.com di saat KPR Syariah Jadi Tren
Rabu, 26 Agustus 2020 - 23:29 WIB
KPR Syariah menjadi preferensi responden Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020 dengan alasan utama karena adanya kepastian besaran cicilan bulanan (fixed rate) yang dinyatakan oleh 74% responden. Ini juga merupakan kenaikan dari sebelumnya 69% responden pada Semester 1/2020. (Baca juga: Demi Kepercayaan Publik, Bareskrim Didesak Tuntaskan Kebakaran Kejakgung )
Sementara mereka yang memilih KPR Syariah dengan pertimbangan keyakinan agama sebesar 70% responden dengan kenaikan 1% dari semester sebelumnya. Jika didasarkan pada besaran penghasilan, mereka yang berpenghasilan rendah mayoritas lebih memilih pembiayaan KPR syariah atau 40% responden dibandingkan yang memilih KPR konvensional sekitar 25% responden.
Marine mengatakan, kelompok berpenghasilan sedang dan tinggi cenderung untuk memilih KPR konvensional, yaitu masing-masing 37% dan 34% responden dibandingkan yang memilih KPR syariah. Persentasenyea 31% responden dan 28% responden.
Berdasarkan Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020, pembiayaan dengan KPR Syariah cenderung lebih diminati oleh generasi muda. Yakni 37% responden yang berusia 22-29 tahun dan 36% responden berusia 30-39 tahun menyukai KPR Syariah dibandingkan konvensional.
Marine mengatakan, bahwa selama tiga tahun terakhir ini para responden survei Rumah.com Consumer Sentiment Study mulai secara spesifik menyatakan, produk pembiayaan KPR yang diminatinya khususnya KPR syariah. Kondisi ini didorong oleh kebutuhan konsumen akan kepastian besaran cicilan bulanan (fixed rate) sehingga menjadi alasan utama mengapa memilih KPR syariah.
"Alasan lain tentunya karena ada fenomena sentimen keagamaan atau 'hijrah' yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya.
Marine menambahkan, di tengah penurunan indeks harga dan kenaikkan suplai properti yang saat ini terjadi, konsumen bisa memanfaatkan momentum baik tersebut untuk melakukan pembelian rumah menggunakan fasilitas KPR syariah. Apalagi bagi mereka yang memiliki preferensi terhadap besaran cicilan yang tetap maupun karena pertimbangan keyakinan agama.
"Saat ini pasar properti sedang mengalami penurunan indeks harga dan kenaikan suplai sehingga berada berada pada kondisi buyer’s market. Oleh karenanya penyedia suplai properti melakukan koreksi harga untuk menjaga daya tarik properti. Konsumen akan dimanjakan dengan suku bunga rendah, pilihan properti lebih banyak, dan daya tawar yang lebih tinggi," tuturnya.
Sementara mereka yang memilih KPR Syariah dengan pertimbangan keyakinan agama sebesar 70% responden dengan kenaikan 1% dari semester sebelumnya. Jika didasarkan pada besaran penghasilan, mereka yang berpenghasilan rendah mayoritas lebih memilih pembiayaan KPR syariah atau 40% responden dibandingkan yang memilih KPR konvensional sekitar 25% responden.
Marine mengatakan, kelompok berpenghasilan sedang dan tinggi cenderung untuk memilih KPR konvensional, yaitu masing-masing 37% dan 34% responden dibandingkan yang memilih KPR syariah. Persentasenyea 31% responden dan 28% responden.
Berdasarkan Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020, pembiayaan dengan KPR Syariah cenderung lebih diminati oleh generasi muda. Yakni 37% responden yang berusia 22-29 tahun dan 36% responden berusia 30-39 tahun menyukai KPR Syariah dibandingkan konvensional.
Marine mengatakan, bahwa selama tiga tahun terakhir ini para responden survei Rumah.com Consumer Sentiment Study mulai secara spesifik menyatakan, produk pembiayaan KPR yang diminatinya khususnya KPR syariah. Kondisi ini didorong oleh kebutuhan konsumen akan kepastian besaran cicilan bulanan (fixed rate) sehingga menjadi alasan utama mengapa memilih KPR syariah.
"Alasan lain tentunya karena ada fenomena sentimen keagamaan atau 'hijrah' yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya.
Marine menambahkan, di tengah penurunan indeks harga dan kenaikkan suplai properti yang saat ini terjadi, konsumen bisa memanfaatkan momentum baik tersebut untuk melakukan pembelian rumah menggunakan fasilitas KPR syariah. Apalagi bagi mereka yang memiliki preferensi terhadap besaran cicilan yang tetap maupun karena pertimbangan keyakinan agama.
"Saat ini pasar properti sedang mengalami penurunan indeks harga dan kenaikan suplai sehingga berada berada pada kondisi buyer’s market. Oleh karenanya penyedia suplai properti melakukan koreksi harga untuk menjaga daya tarik properti. Konsumen akan dimanjakan dengan suku bunga rendah, pilihan properti lebih banyak, dan daya tawar yang lebih tinggi," tuturnya.
Lihat Juga :