12 Fakta Menarik Luar Angkasa, Ruang yang Begitu Sunyi
Rabu, 16 Agustus 2023 - 08:31 WIB
4. Jejak Kaki Astronot di Bulan Abadi
Jejak kaki para astronot Apollo di Bulan akan bertahan selama 100 juta tahun. Hal itu terjadi lantaran Bulan tidak memiliki atmosfer, sehingga tidak ada angin atau air yang dapat mengikis atau menghapus jejak para astronot. Hanya serbuan mikrometeorit ke Bulan yang akan mengancam jejak kaki tersebut. Tapi, erosi yang diakibatkan akan berjalan sangat lamban.
5. Massa Tata Surya adalah Matahari
99 persen massa tata surya adalah matahari. Matahari, sangat padat sehingga mencapai 99 persen massa seluruh tata surya. Hal itulah yang membuat matahari mendominasi semua planet secara gravitasi.
Secara teknis, matahari adalah bintang deret utama tipe-G yang artinya setiap detik meleburkan sekitar 600 juta ton hidrogen menjadi helium. Juga mengubah 4 juta ton materi menjadi energi sebagai produk sampingan.
Saat matahari mati, akan menjadi raksasa merah dan menyelimuti bumi dan segala isinya. Tapi jangan khawatir, hal itu diperkirakan baru terjadi 5 miliar tahun lagi.
6. Energi Surya Melimpah di Bumi
Lebih banyak energi matahari yang menghantam Bumi setiap jam daripada yang digunakan planet ini dalam setahun. Penggunaan energi surya telah meningkat 20 persen setiap tahun selama 15 tahun terakhir. Menurut Yale Environment, sebanyak 98,9 gigawatt energi matahari diproduksi pada 2017. Meski terlihat besar, jumlah energi ini hanya menyumbang 0,7 persen dari penggunaan listrik tahunan dunia.
7. Logam Lengket di Luar Angkasa
Jika dua jenis logam yang sama bersentuhan di ruang angkasa, maka akan saling menempel secara permanen.
Efek luar biasa ini disebut pengelasan dingin. Itu terjadi karena atom-atom dari masing-masing potongan logam tidak memiliki cara untuk mengetahui bahwa mereka adalah potongan logam yang berbeda, sehingga gumpalan-gumpalan itu bergabung menjadi satu.
Baca Juga: NASA: Luar Angkasa Penuh dengan Sampah Berbahaya!
Fenomena ini tidak akan terjadi di Bumi karena ada udara dan air yang memisahkan potongan-potongan itu. Efeknya memiliki banyak implikasi untuk konstruksi pesawat ruang angkasa dan masa depan konstruksi berbasis logam dalam ruang hampa.
8. Asteroid Terbesar
Asteroid terbesar di tata surya adalah bongkahan batu luar angkasa raksasa bernama Ceres Asteroid ini berdiameter hampir 600 mil. Luas permukaan Ceres kira-kira sama dengan luas daratan India atau Argentina. Lokasinya di antara Mars dan Jupiter.
Jejak kaki para astronot Apollo di Bulan akan bertahan selama 100 juta tahun. Hal itu terjadi lantaran Bulan tidak memiliki atmosfer, sehingga tidak ada angin atau air yang dapat mengikis atau menghapus jejak para astronot. Hanya serbuan mikrometeorit ke Bulan yang akan mengancam jejak kaki tersebut. Tapi, erosi yang diakibatkan akan berjalan sangat lamban.
5. Massa Tata Surya adalah Matahari
99 persen massa tata surya adalah matahari. Matahari, sangat padat sehingga mencapai 99 persen massa seluruh tata surya. Hal itulah yang membuat matahari mendominasi semua planet secara gravitasi.
Secara teknis, matahari adalah bintang deret utama tipe-G yang artinya setiap detik meleburkan sekitar 600 juta ton hidrogen menjadi helium. Juga mengubah 4 juta ton materi menjadi energi sebagai produk sampingan.
Saat matahari mati, akan menjadi raksasa merah dan menyelimuti bumi dan segala isinya. Tapi jangan khawatir, hal itu diperkirakan baru terjadi 5 miliar tahun lagi.
6. Energi Surya Melimpah di Bumi
Lebih banyak energi matahari yang menghantam Bumi setiap jam daripada yang digunakan planet ini dalam setahun. Penggunaan energi surya telah meningkat 20 persen setiap tahun selama 15 tahun terakhir. Menurut Yale Environment, sebanyak 98,9 gigawatt energi matahari diproduksi pada 2017. Meski terlihat besar, jumlah energi ini hanya menyumbang 0,7 persen dari penggunaan listrik tahunan dunia.
7. Logam Lengket di Luar Angkasa
Jika dua jenis logam yang sama bersentuhan di ruang angkasa, maka akan saling menempel secara permanen.
Efek luar biasa ini disebut pengelasan dingin. Itu terjadi karena atom-atom dari masing-masing potongan logam tidak memiliki cara untuk mengetahui bahwa mereka adalah potongan logam yang berbeda, sehingga gumpalan-gumpalan itu bergabung menjadi satu.
Baca Juga: NASA: Luar Angkasa Penuh dengan Sampah Berbahaya!
Fenomena ini tidak akan terjadi di Bumi karena ada udara dan air yang memisahkan potongan-potongan itu. Efeknya memiliki banyak implikasi untuk konstruksi pesawat ruang angkasa dan masa depan konstruksi berbasis logam dalam ruang hampa.
8. Asteroid Terbesar
Asteroid terbesar di tata surya adalah bongkahan batu luar angkasa raksasa bernama Ceres Asteroid ini berdiameter hampir 600 mil. Luas permukaan Ceres kira-kira sama dengan luas daratan India atau Argentina. Lokasinya di antara Mars dan Jupiter.
Lihat Juga :