Penjahat Dark Web Mulai Incar Sektor Kesehatan

Jum'at, 06 September 2019 - 00:03 WIB
Penjahat Dark Web Mulai...
Penjahat Dark Web Mulai Incar Sektor Kesehatan
A A A
JAKARTA - Sektor kesehatan dinilai masih belum memiliki kemampuan keamanan siber yang memadai. Padahal, menurut Kaspersky data yang dimiliki industri medis sedang diincar oleh para penjahat siber di dark web.

Dark web sendiri merupakan situs yang berenkripsi, artinya situs seperti ini tidak dapat ditemukan melalui mesin pencarian konvensional, seperti Google, Yahoo dan sebagainya.

Untuk dapat masuk ke bagian web yang tersembunyi, pengguna harus menggunakan perangkat lunak khusus seperti Tor. Tor adalah singkatan dari "the onion router" dan merupakan metode untuk menganonimkan data.

Berdasarkan penelitian dari perusahaan cybersecurity asal Rusia ini, infiltrasi rumah sakit dan layanan kesehatan merupakan layanan terbaru yang ditawarkan oleh kelompok peretasan anonim tersebut.

Peneliti keamanan di Kaspersky, Seongsu Park, mengatakan Setiap organisasi, individu, dan perusahaan dapat menjadi pelanggan potensial mereka karena para penjahat siber ini menawarkan berbagai layanan.

"Dengan sektor kesehatan yang sedikit tertinggal dalam hal kemampuan keamanan mereka, kami mengamati bahwa kelompok peretasan sekarang aktif untuk mengeksploitasi fenomena ini dengan menambahkan informasi medis dan serangan rumah sakit ke daftar layanan mereka yang tersedia secara publik di dark web," ujarnya saat pemaparan Cyber Security Weekend di Yangon, Myanmar, Kamis (5/9/2019).

Park juga mencatat bahwa catatan medis dapat dianggap lebih berharga daripada kartu kredit. Ini karena rumah sakit umumnya membutuhkan kredensial pribadi dan keuangan pasien sebelum pemeriksaan atau penerimaan.

Adapun motif yang dilakukan penjahat siber dapat mencakup penipuan panggilan, identitas dan pencurian moneter, serta pemerasan dan kejahatan yang diturunkan.

“Berdasarkan indikasi dan pola yang telah kita lihat dan masih lihat di web gelap, tujuan utama individu di balik kelompok peretasan ini adalah untuk menjual informasi medis ke kelompok kejahatan lain atau kepada individu yang bertujuan mengakses data medis rahasia," pungkasnya.
(wbs)
Berita Terkait
Pakai OS Kaspersky,...
Pakai OS Kaspersky, Rusia Siapkan Ponsel yang Tak Bisa Diretas
Kaspersky: 2021, Masyarakat...
Kaspersky: 2021, Masyarakat Kian Anggap Penting Privasi Data
Melindungi Pahlawan...
Melindungi Pahlawan Jalanan: Telkomsel, Kaspersky, dan Gojek Bersatu Padu Hadirkan Paket Swadaya Aman
Ransomware: Ancaman...
Ransomware: Ancaman Nyata di 2025, Bagaimana Organisasi di Indonesia Melindungi Diri?
5 Cara Mencegah Serangan...
5 Cara Mencegah Serangan Pencurian Data Pribadi atau Phising
Waspada Ransomware!...
Waspada Ransomware! 8 Tips Cegah Serangan Siber Paling Berbahaya di Dunia
Berita Terkini
Uni Eropa Perintahkan...
Uni Eropa Perintahkan Google Membuka Fitur AI Android
6 jam yang lalu
Perkuat Jaringan di...
Perkuat Jaringan di Jatim, XLSMART Perluas 5G Blanket Coverage di 8 Kabupaten/Kota
1 hari yang lalu
Orang Kaya Misterius...
Orang Kaya Misterius Membeli Fosil Dinosaurus
1 hari yang lalu
5 Rekomendasi Laptop...
5 Rekomendasi Laptop Terbaik untuk Kerja Kantoran di Tahun 2026
1 hari yang lalu
500 Pairs Aset Kripto...
500 Pairs Aset Kripto Bantu Menavigasi Ekosistem Digital
2 hari yang lalu
Perkuat Pasar Teknologi...
Perkuat Pasar Teknologi Nasional, Bachrum Lubis Siap Pimpin StratLogic.AI Akselerasi Transformasi AI Indonesia
2 hari yang lalu
Infografis
Jadi Buah Terbaik di...
Jadi Buah Terbaik di Asia Tenggara, Ini 7 Manfaat Manggis untuk Kesehatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved