Jelajahi Era 5.0, Jepang Sudah Lama Tinggalkan Industri 4.0

Minggu, 27 Januari 2019 - 20:13 WIB
Jelajahi Era 5.0, Jepang...
Jelajahi Era 5.0, Jepang Sudah Lama Tinggalkan Industri 4.0
A A A
DOVOS - Disaat negara-negara lain termasuk Indonesia baru menuju era 4.0, Jepang ngacir dahulu ke 5.0 di mana digitalisasi bukan hanya di sektor industri, tetapi juga masuk ke segala aspek kehidupan manusia.

Di Jepang visi era super smart Society 5.0” ini sudah digodok sejak 2016, lalu diperkenalkan ke masyarakat global oleh Perdana Menteri Shinzo Abe pada 2017, dan sekarang sudah menjadi platform resmi kebijakan pemerintah. Baca : Bermesin 4 Tak, Bukti Yamaha Mati-Matian Ulang Kesuksesan RX King

Seperti dilansir dari Reuters, dalam ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (23/01) lalu, Abe mengatakan negaranya menghadapi masalah besar sehingga dibutuhkan terobosan luar biasa untuk memulihkan perekeonomian, membangkitkan optimisme rakyat, dan kembali terdepan dalam persaingan global.

Menurut Abe masalah utama Jepang adalah populasi yang menua, di mana sekitar 26 persen penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun. Kondisi itu membuat Jepang kekurangan tenaga kerja produktif dan menebarkan pesimisme di masyarakat Jepang.

Lima tahun lalu, tembok keputusasaan, tembok pesimisme. Sejak saat itu, populasi usia kerja kami anjlok 4,5 juta orang,” ujar Abe.

Pemerintah kemudian meluncurkan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam tenaga kerja dan dilakukan legislasi yang membuka pintu bagi lebih banyak tenaga kerja asing. Baca: Nasib Yamaha RX King Tidak Semujur Suzuki Hayabusa

Tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan dalam program "womenomics" ini kemudian mencapai rekor tertinggi 67% dan melampaui Amerika Serikat, dan jumlah tenaga kerja perempuan bertambah sebanyak 2 juta orang. Selain itu, jumlah tenaga kerja berusia di atas 65 tahun juga bertambah 2 juta orang.

"Dari setiap 100 sarjana yang mencari kerja sekarang ini, 98 mendapatkannya, siklus umpan balik yang positif dan lama ditunggu sudah menemukan akar masalahnya, dengan pertumbuhan lapangan kerja dan pendapatan yang memicu demand lebih besar dan kemudian membuka lapangan kerja lebih banyak lagi," tandas Abe.
(wbs)
Berita Terkait
Teknologi AI dan IoT...
Teknologi AI dan IoT hadir di Indonesia 4.0 Conference & Expo 2022
Tatap Era Industri 4.0...
Tatap Era Industri 4.0 dan Digitalisai, IOEA-III-2020 Gaungkan Operational Excellence
Lewat HAI Fest 2020,...
Lewat HAI Fest 2020, TelkomGroup Tegaskan Pentingnya Transformasi Digital
Pentingnya Kawasan Industri...
Pentingnya Kawasan Industri Mengadopsi Industri 4.0
Dorong Digitalisasi...
Dorong Digitalisasi Kampus, LPTNU Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0
Sambut Era Revolusi...
Sambut Era Revolusi Industri 4.0, Hari Koperasi Diperingati Secara Virtual
Berita Terkini
Titik Balik yang Mengubah...
Titik Balik yang Mengubah Ukuran Manusia Purba Ditemukan
4 jam yang lalu
SpaceX Berganti Nama...
SpaceX Berganti Nama Jadi SpaceXAI Bukti Fokus pada AI
8 jam yang lalu
China Ciptakan Baterai...
China Ciptakan Baterai Nuklir yang Bisa Bertahan Ribuan Tahun
14 jam yang lalu
Kontroversi Meletus...
Kontroversi Meletus antara Apple dan OpenAI, Apakah Itu?
18 jam yang lalu
Membawa Udara Bersih...
Membawa Udara Bersih ke Dalam Rumah, Bentuk Kepedulian Terbaik Saat Polusi Melanda
2 hari yang lalu
Berbasis Open Source,...
Berbasis Open Source, Equnix Dorong Ekosistem PostgreSQL
2 hari yang lalu
Infografis
10 Radar Militer Terbaik...
10 Radar Militer Terbaik di Dunia, Sudah Teruji di Medan Perang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved