Awal 2019, Facebook Kesandung Masalah di Vietnam

Kamis, 10 Januari 2019 - 10:02 WIB
Awal 2019, Facebook...
Awal 2019, Facebook Kesandung Masalah di Vietnam
A A A
HANOI - Facebook kembali dituding melanggar undang-undang keamanan siber. Kali ini Facebook dianggap melanggar aturan baru Vietnam setelah mengizinkan penggunanya mengunggah komentar anti-pemerintah.

Seperti dilansir dari Reuters, menurut Kantor Berita Vietnam, Kementerian Komunikasi dan Informasi mengatakan Facebook dilaporkan tidak menanggapi melemparkan fanpage yang memicu aktivitas melawan pemerintah.

Hukum kontroversial baru mulai berlaku di negara itu kemarin.

Tahun 2018 lalu, Facebook digugat 37 negara, Badan hukum perlindungan konsumen dan jaksa yang mewakili 37 negara bagian di Amerika Serikat (AS) mendesak Facebook memberikan keterangan. Permintaan itu terkait bagaimana informasi data 50 juta penggunanya bisa berada di tangan konsultan politik asal Inggris, Cambridge Analytica.

Skandal Facebook membuat Komisi Perdagangan Federal AS buka suara. Mereka membuka penyelidikan terhadap Facebook yang biasanya hanya dilakukan dalam kasus besar yang menarik banyak perhatian publik. Mereka mengutip laporan media massa yang menyatakan praktik privasi Facebook merupakan keprihatinan substansial.

Koalisi bipartisan 37 jaksa negara bagian AS juga menulis surat tuntutan. Mereka ingin mengetahui lebih banyak mengenai peran Facebook dalam memanipulasi data pengguna yang digunakan Cambridge Analytica. Data itu digunakan untuk menggiring para pemilih AS dan Inggris menjelang pilpres 2016 dan referendum Brexit.

“Penguakan itu menimbulkan pertanyaan serius mengenai kebijakan dan praktik Facebook. Langkah ini perlu diambil untuk memastikan Facebook mengikuti aturan,” bunyi surat itu, dikutip Reuters. “Kami perlu tahu agar pengguna bisa mempercayai Facebook. Dengan informasi yang sekarang kami miliki, kepercayaan kami sirna.”

Atas skandal ini, saham Facebook jatuh sebesar 6,5% di bawah USD150 untuk pertama kali sejak Juli 2017. Saham Facebook sudah berada di bawah 13% sejak Facebook mengakui data pengguna diberikan kepada Cambridge Analytica pada 16 Maret. Sejak saat itu, perusahaan menelan kerugian nilai pasar lebih dari USD70 miliar.

Saham Facebook sempat pulih pada awal pekan ini sebesar 0,4% di USD160,06. Pemulihan tersebut dinilai kemungkinan besar dimanfaatkan sebagian investor yang mengambil keuntungan dari rendahnya harga saham Facebook. Mereka yakin kasus regulasi ini tidak akan melukai prospek pertumbuhan jangka panjang Facebook.

Komisi Perdagangan Federal ingin mengetahui apakah Facebook melanggar perjanjian pada 2011 seputar praktik privasi. Jika FTC menemukan Facebook melanggar dekrit itu, mereka memiliki wewenang untuk memberikan sanksi denda ribuan dollar per hari dalam satu kasus pelanggaran yang bisa mencapai miliaran dollar.

Namun, Facebook yakin mereka tidak melakukan kesalahan dan berjalan sesuai aturan. “Kami tetap teguh berkomitmen untuk melindungi informasi masyarakat,” ujar Wakil Kepala Privasi Facebook Rob Sherman dalam keterangan pers. “Kami menghargai kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang diperlukan FTC,” tambahnya.

Para pembuat Undang Undang di AS dan Eropa terus mendesak Facebook dan CEO Mark Zuckerberg untuk menjelaskan praktik privacy perusahaan. Senate Judiciary Committee menyatakan telah mengundang Zuckerberg, CEO Alphabet Inc, dan CEO Twitter untuk memberikan pernyataan pada 10 April mengenai data privasi.

House Energy and Commerce Committee dan Senate Commerce Committee juga meminta Zuckerberg secara formal untuk hadir di sidang kongres. “Facebook gagal melindungi informasi rahasia pengguna yang tampaknya melanggar komitmen hukum tertentu, juga norma dan standar dasar,” imbuh Senator Demokrat Richard Blumenthal.

Di samping AS, European Union Justice Commissioner juga meminta Facebook agar skandal Cambridge Analytica tidak terulang lagi. Pada pekan lalu, Zuckerberg meminta maaf melalui pemasangan iklan di satu halaman penuh dalam surat kabar AS dan Inggris. Dia berjanji akan memperketat akses developer terhadap informasi pengguna.

Bagaimana pun, permintaan maaf Zuckerberg tidak mampu meredam keprihatinan pemerintah dan masyarakat. Menteri Keadilan Jerman mengatakan hal itu masih tidak cukup. “Di masa depan, kita perlu mengatur perusahaan seperti Facebook jauh lebih ketat,” kata Katarina Barley setelah berbicara dengan eksekutif Facebook.
(wbs)
Berita Terkait
Facebook Luncurkan Messenger...
Facebook Luncurkan Messenger Kids Dilebih dari 70 Negara
Diakusisi Facebook,...
Diakusisi Facebook, Meme Mark Zuckerberg Tak Akan Hilang
Mark Zuckerberg Kehilangan...
Mark Zuckerberg Kehilangan Rp100 Triliun akibat Aksi Boikot Iklan di Facebook
Facebook Uji Coba Face...
Facebook Uji Coba Face ID dan Touch ID pada Messenger
Facebook Rilis Reaction...
Facebook Rilis Reaction Care Sebagai Dukungan di Tengah Pandemi
Facebook Uji Integrasi...
Facebook Uji Integrasi Wikipedia ke Hasil Pencariannya
Berita Terkini
Titik Balik yang Mengubah...
Titik Balik yang Mengubah Ukuran Manusia Purba Ditemukan
10 jam yang lalu
SpaceX Berganti Nama...
SpaceX Berganti Nama Jadi SpaceXAI Bukti Fokus pada AI
13 jam yang lalu
China Ciptakan Baterai...
China Ciptakan Baterai Nuklir yang Bisa Bertahan Ribuan Tahun
19 jam yang lalu
Kontroversi Meletus...
Kontroversi Meletus antara Apple dan OpenAI, Apakah Itu?
23 jam yang lalu
Membawa Udara Bersih...
Membawa Udara Bersih ke Dalam Rumah, Bentuk Kepedulian Terbaik Saat Polusi Melanda
2 hari yang lalu
Berbasis Open Source,...
Berbasis Open Source, Equnix Dorong Ekosistem PostgreSQL
2 hari yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved