Biaya Perawatan Mahal, Harga Buoy Rp5 Miliar Sekali Pasang

Kamis, 27 Desember 2018 - 06:05 WIB
Biaya Perawatan Mahal,...
Biaya Perawatan Mahal, Harga Buoy Rp5 Miliar Sekali Pasang
A A A
JAKARTA - Bencana tsunami pada Sabtu (22/12/2018) yang melanda di wilayah Selat Sunda merupakan satu fenomena baru, lantaran tsunami tersebut dipicu oleh aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau, bukan gempa bumi.

Oleh karenananya Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza mengatakan sudah seharusnya menggunakan alat yang lebih cocok untuk mendeteksi gelombang atau permukaan laut yaitu Buoy.

"Karena kalau berdasarkan kondisi saat ini kita hanya menggunakan tide gauge istilahnya indikator untuk mengukur pasar surut air laut, ya tidak bisa membaca adanya tsunami," jelasnya kepada SINDOnews melalui sambungan telepon, Rabu (26/12/2018).

Hammam mengisahkan pada tahun 2006 dan 2008 mereka pernah memasang alat yang mengapung dipermukaan laut tersebut di Selat Sunda, namun keduanya raib dan rusak, sehingga saat ini sudah tidak ada lagi alat tersebut di Selat Sunda.

"Kita harus membangun kembali Buoy untuk tsunami warning system, karena kita saat ini sudah tidak memiliki lagi Buoy itu," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa alat ini efektif mendeteksi apapun sumbernya. "Baik tektonik maupun non tektonik ya seperti erupsi gunung berapi itu bisa menambah akurasi kita mengukur adanya tsunami atau tidak," tambahnya.

Rupanya selain banyak perilaku vandalisme, salah satu yang menjadi hilangnya alat ini sejak tahun 2012 karena faktor biaya perawatan yang cukup mahal. Meski tak menyebutkan nominal pasti berapa biaya perawatannya,

Hammam menyebutkan untuk pengadaan satu Buoy setidaknya diperlukan biaya Rp 5 miliar. Biaya tersebut hanya untuk satu kali pengadaan alat saja, belum termasuk biaya peralatan dan perawatan yang meliputi banyak aspek, salah satunya langganan satelit.

" Kita harus juga langganan satelit kan untuk menangkap sinyal dari Buoy yang mengambang di laut, belum lagi termasuk biaya kapal untuk perawatan dan lain lain," pungkasnya.
(wbs)
Berita Terkait
Sindonews Update 19...
Sindonews Update 19 Sept 2020, Rusia dan Amerika Berebut Venus
NASA Berencana Suntik...
NASA Berencana Suntik Jutaan Ton Es ke Atmosfer untuk Melawan Perubahan Iklim
Berencana Jelajahi Mars,...
Berencana Jelajahi Mars, NASA Mulai Uji Coba Roket Baru
NASA Kembangkan Ventilator...
NASA Kembangkan Ventilator untuk Pasien COVID-19
Ilmuwan NASA Temukan...
Ilmuwan NASA Temukan Indikasi bahwa Parallel Universe Benar-Benar Ada
NASA Cari Orang yang...
NASA Cari Orang yang Mau Diisolasi di Pesawat Ruang Angkasa
Berita Terkini
Menganalisis Kekuatan...
Menganalisis Kekuatan Pesawat Su-35 dan Rafale setelah Pertemuan di Laut Baltik
9 jam yang lalu
4 Teknologi Mutakhir...
4 Teknologi Mutakhir di Piala Dunia 2026, Pesepak Bola Akan Jadi Avatar
19 jam yang lalu
OpenAI Luncurkan Fitur...
OpenAI Luncurkan Fitur Penguncian Perlindungan Data untuk ChatGPT
22 jam yang lalu
Rayakan Hari Jadi ke-30,...
Rayakan Hari Jadi ke-30, Lexar Padukan Visi Teknologi AI dan Sinergi Global
1 hari yang lalu
Gerhana Matahari Total...
Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Segera Terjadi
1 hari yang lalu
Ilmuwan Pastikan AI...
Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim
1 hari yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved