Pesan Hoax, Masyarakat Takut, Teror Dianggap Berhasil
Kamis, 14 Januari 2016 - 22:09 WIB
Pesan Hoax, Masyarakat Takut, Teror Dianggap Berhasil
A
A
A
DEPOK - Pakar IT Abimanyu Wachjoewidayat mengatakan, pada dasarnya pengirim pesan secara viral berisi informasi soal bom merupakan bagian dari penyebar teror. Penyebaran itu bisa menimbulkan ketakutan tersendiri pada masyarakat.
"Dalam konteks, ini untuk menuntut hal yang lebih besar yaitu membangkitkan ketakutan pada masyarakat dan pemerintah," kata Abah, sapaan akrabnya, Kamis (14/1/2016).
Dia menjelaskan, jika masyarakat diteror dan terjadi ketakutan maka si teroris merasa berhasil. Namun jika masyarakat tidak terpengaruh maka aksi terornya dikatakan gagal. "Penyebaran viral itu yang diharapkan teroris," katanya.
Dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak sembarangan memviralkan suatu pesan hanya dengan alasan tertentu. Misalnya menyebarkan pesan hanya untuk dianggap sebagai orang yang pertama mengetahui suatu informasi. Padahal belum tentu informasi tersebut benar dan tidak jelas sumbernya.
"Jadi semacam ada kebanggaan kalau dia menjadi orang yang pertama tahu. Seharusnya pebyebaran informasi itu harus dicek dulu kebenarannya dan disebarkan untuk wanti-wanti," tukasnya.
Netizen sudah harus mulai berfikir positif dengan tidak serta merta menyebarkan informasi tanpa sumber yang jelas. Kemudian harus difikirkan pula dampak dari penyebaran informasi itu bagi dirinya dan masyarakat.
Karena dengan memviralkan informasi yang dianggap rentan netizen bisa terjerat tindakan hukum jika ternyata informasinya itu adalah hoax.
"Jangan berfikir yang penting sebarkan dulu. Tapi harus dibalik menjadi sebarkan yang penting. Harus tahu resikonya juga atas pesan yang disebarkan secara viral itu," imbaunya
"Dalam konteks, ini untuk menuntut hal yang lebih besar yaitu membangkitkan ketakutan pada masyarakat dan pemerintah," kata Abah, sapaan akrabnya, Kamis (14/1/2016).
Dia menjelaskan, jika masyarakat diteror dan terjadi ketakutan maka si teroris merasa berhasil. Namun jika masyarakat tidak terpengaruh maka aksi terornya dikatakan gagal. "Penyebaran viral itu yang diharapkan teroris," katanya.
Dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak sembarangan memviralkan suatu pesan hanya dengan alasan tertentu. Misalnya menyebarkan pesan hanya untuk dianggap sebagai orang yang pertama mengetahui suatu informasi. Padahal belum tentu informasi tersebut benar dan tidak jelas sumbernya.
"Jadi semacam ada kebanggaan kalau dia menjadi orang yang pertama tahu. Seharusnya pebyebaran informasi itu harus dicek dulu kebenarannya dan disebarkan untuk wanti-wanti," tukasnya.
Netizen sudah harus mulai berfikir positif dengan tidak serta merta menyebarkan informasi tanpa sumber yang jelas. Kemudian harus difikirkan pula dampak dari penyebaran informasi itu bagi dirinya dan masyarakat.
Karena dengan memviralkan informasi yang dianggap rentan netizen bisa terjerat tindakan hukum jika ternyata informasinya itu adalah hoax.
"Jangan berfikir yang penting sebarkan dulu. Tapi harus dibalik menjadi sebarkan yang penting. Harus tahu resikonya juga atas pesan yang disebarkan secara viral itu," imbaunya
(dol)