Ilmuwan Terkejut, 68 Persen Gletser di Bumi Akan Mencair Pada 2100

Jum'at, 06 Januari 2023 - 07:03 WIB
loading...
Ilmuwan Terkejut, 68...
Gletser atau glasier adalah bongkahan es berukuran raksasa yang terbentuk di atas permukaan tanah. Foto: AP
A A A
JAKARTA - Para ilmuwan terkejut melihat hasil penelitian terbaru. Sebab, gletser dunia menyusut dan menghilang lebih cepat dari yang awal diperkirakan. Sekitar dua pertiga atau 68 persen dari gletser bumi diproyeksikan akan mencair pada 2100. Penyebabnya: perubahan iklim dan pemanasan global.

Gletser atau glasier adalah bongkahan es berukuran raksasa yang terbentuk di atas permukaan tanah. Gletser terbentuk dari akumulasi endapan salju yang membatu selama kurun waktu sangat lama. Bongkahan es tersebut menutup sekitar 10% daratan di bumi.

Gletser juga tidak hanya ada di kutub, tapi juga daerah pegunungan tinggi di berbagai wilayah di dunia (kecuali Australia).

Para ilmuwan menilai, jika dunia dapat membatasi pemanasan global sesuai kesepakatan internasional maka kurang dari 50 persen gletser dunia akan menghilang pada 2100. Sayangnya, kemungkinan itu terjadi sangat kecil.

Bahkan, ada skenario terburuk ketika pemanasan global tak terkontrol dan naik beberapa derajat, maka 83% gletser dunia kemungkinan besar akan hilang pada 2100.

Ilmuwan Terkejut, 68 Persen Gletser di Bumi Akan Mencair Pada 2100

Studi tersebut dilandaskan pada analisis dari 215.000 gletser yang ada di darat. Tidak termasuk lapisan es di Greenland dan Antartika.

Para ilmuwan menggunakan simulasi komputer untuk menghitung dengan tingkat pemanasan yang berbeda-beda, berapa banyak gletser yang akan hilang. Berapa triliunan ton es yang akan mencair, dan berapa banyak kontribusinya terhadap kenaikan permukaan laut.

Hasilnya, suhu bumi diketahui akan meningkat sebesar 2,7 derajat Celcius. Yang artinya, pada 2100 nanti—jika kenaikannya tetap sama—akan kehilangan 32 persen massa gletser dunia, atau 48,5 triliun metrik ton es serta 68 persen dari gletser menghilang.

Dampaknya, permukaan laut akan naik sebesar 4,5 inci (115 milimeter). Maka, lautan akan menjadi semakin meluas akibat lapisan es yang mencair dan air yang lebih hangat.

“Apa pun skenarionya, kita akan kehilangan banyak gletser,” kata David Rounce, ahli glasiologi dan profesor teknik di Universitas Carnegie Mellon. “Tapi kita memiliki opsi untuk membuat perbedaan dengan membatasi berapa banyak gletser yang akan hilang,” tambahnya.

Dampak kenaikan permukaan laut setinggi 4,5 inci akibat gletser ternyata sangat masif. Sebab, akan berpengaruh pada lebih dari 10 juta orang di seluruh dunia, termasuk 100.000 orang di Amerika Serikat.

“Mereka akan hidup di bawah garis air pasang,” ujar Ben Strauss, CEO Climate Central. “Kenaikan permukaan laut dari perubahan iklim membuat Superstorm Sandy pada 2012 menimbulkan kerugian USD 8 miliar,” tambahnya.

BACA JUGA: Gletser Greenland Mencair 100 Kali Lebih Cepat dari Perkiraan

Dampak menyusutnya gletser lebih dari sekadar naiknya air laut. Namun juga menyusutnya pasokan air untuk sebagian besar populasi dunia, meningkatnya risiko banjir, dan hilangnya tempat bersejarah yang tertutup es dari Alaska hingga Pegunungan Alpen bahkan di dekat base camp Gunung Everest.

"Untuk tempat-tempat seperti Pegunungan Alpen atau Islandia, gletser membuat lanskap ini begitu istimewa," kata Direktur Pusat Data Salju dan Es Nasional Mark Serreze. “Saat mereka kehilangan es, artinya mereka juga kehilangan jiwa mereka,”tambahnya.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hewan Semakin Menderita...
Hewan Semakin Menderita seperti Manusia Akibat Degradasi Lingkungan
Gelombang Panas Ekstrem...
Gelombang Panas Ekstrem Picu Darurat Iklim Global
Gunung Es Raksasa Mengapung...
Gunung Es Raksasa Mengapung Menuju Permukiman Greenland
Mencairnya Es Ungkap...
Mencairnya Es Ungkap Rahasia Ribuan Tahun di Pegunungan Rocky
Gunung Es Raksasa Berwarna...
Gunung Es Raksasa Berwarna Hitam Muncul di Laut Labrador
Pendidikan Iklim Sejak...
Pendidikan Iklim Sejak Dini: Italia Wajibkan, Indonesia Baru Punya Oase di Semarang
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Pakar ITB Soroti Tantangan...
Pakar ITB Soroti Tantangan Sistem Kelistrikan dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Pramono Jadi Wakil Ketua...
Pramono Jadi Wakil Ketua C40 Cities, Fahira Idris: Dunia Akui Peran Strategis Jakarta
Rekomendasi
Profesor AS: Israel,...
Profesor AS: Israel, Bukan Iran, yang Jadi Ancaman Nuklir Utama di Timur Tengah
Kemenhaj: 76.829 Jemaah...
Kemenhaj: 76.829 Jemaah Haji dari 195 Kloter Telah Tiba di Indonesia
Brasil vs Maroko: Vinicius...
Brasil vs Maroko: Vinicius Junior Selamatkan Selecao dari Kekalahan
Berita Terkini
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Adu Otak Bukan Otot:...
Adu Otak Bukan Otot: Lus Figo dan Ambisi Baru Game Mobile di Indonesia
Revolusi AI di Layar...
Revolusi AI di Layar Kaca: TV Premium LG 2026 Mengerti Logat Indonesia
Dari Bangkrut Saat Krisis...
Dari Bangkrut Saat Krisis 2008, MrBeast Kini Pimpin 1.000 Karyawan dan 500 Juta Pengikut
Saham SpaceX Ludes,...
Saham SpaceX Ludes, Rebutan Harta Karun Luar Angkasa Dimulai
Resmi Melantai, IPO...
Resmi Melantai, IPO SpaceX Cetak Sejarah dan Jadikan Elon Musk Triliuner Dunia Pertama
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved