Metode Baru Cuci Otak Bom Bunuh Diri yang Harus Diwaspadai!
Rabu, 07 Desember 2022 - 13:15 WIB
loading...
A
A
A
"Kami melihat bahwa banyak anak-anak yang telah dicuci otak di sekolah-sekolah oleh kelompok tertentu, Dan mereka hanya butuh waktu dua jam untuk mencuci otak Anak-anak, membentuk mereka jadi radikal" katanya.
Sementara itu, Herr Maassen, kepala Kantor Perlindungan Konstitusi - Jerman setara MI5 - menambahkan: "Kami sudah mengamati kepada pada beberapa wanita dan remaja. Ini masalah bagi kami karena anak-anak dan remaja ini khususnya bisa menjadi bahaya setelah dicuci otaknya dengan misi untuk melakukan serangan."
Radikalisasi anak di bawah umur telah menjadi topik besar di Jerman mengingat bahwa tiga dari lima serangan di Jerman pada tahun 2016 dilakukan oleh anak di bawah umur, dan seorang bocah 12 tahun juga ditahan setelah mencoba mengebom pasar Natal di Ludwigshafen.
Herr Maassen mengatakan bahwa kelompok teror juga melakukan serangan lewat Internet dan menargetkan anak-anak melalui internet dan media sosial, sering memberikan iklan yang apik atau propaganda yang sesuai dengan pemahaman usia untuk merekrut mereka dan bergabung dengan kelompok teror.
"Kelompok teror menggunakan headhunter yang menjelajahi internet mencari mangsa anak-anak yang dapat didekati dan diradikalisasi, atau merekrut mereka untuk menjadi pelaku serangan teroris," tandasnya.
Sementara itu, Herr Maassen, kepala Kantor Perlindungan Konstitusi - Jerman setara MI5 - menambahkan: "Kami sudah mengamati kepada pada beberapa wanita dan remaja. Ini masalah bagi kami karena anak-anak dan remaja ini khususnya bisa menjadi bahaya setelah dicuci otaknya dengan misi untuk melakukan serangan."
Radikalisasi anak di bawah umur telah menjadi topik besar di Jerman mengingat bahwa tiga dari lima serangan di Jerman pada tahun 2016 dilakukan oleh anak di bawah umur, dan seorang bocah 12 tahun juga ditahan setelah mencoba mengebom pasar Natal di Ludwigshafen.
Herr Maassen mengatakan bahwa kelompok teror juga melakukan serangan lewat Internet dan menargetkan anak-anak melalui internet dan media sosial, sering memberikan iklan yang apik atau propaganda yang sesuai dengan pemahaman usia untuk merekrut mereka dan bergabung dengan kelompok teror.
"Kelompok teror menggunakan headhunter yang menjelajahi internet mencari mangsa anak-anak yang dapat didekati dan diradikalisasi, atau merekrut mereka untuk menjadi pelaku serangan teroris," tandasnya.
(wbs)
Lihat Juga :