500 Juta Nomor HP Pengguna WhatsApp dari 84 Negara Diduga Bocor, 130 Ribu dari Indonesia
Senin, 28 November 2022 - 09:46 WIB
loading...
A
A
A
Pelaku menjual kumpulan no HP itu secara terpisah per negara. Misalnya, untuk data no HP bocor di Amerika dijual USD7.000 (Rp110 juta), Inggris (Rp40 juta), Jerman (Rp30 juta).
Bagaimana hacker bisa mendapatkan data no HP yang begitu besar? Cybernews menduga bahwa pelaku menggunakan serangan smishing dan vishing.
Smishing adalah penipuan phishing melalui pesan elektronik/SMS, atau disebut juga SMS phishing.
Voice phishing atau vhishing adalah bentuk penipuan melalui telepon. Penipu menggunakan social engineering melalui telepon untuk mendapatkan akses ke informasi dan keuangan pribadi korban.
![500 Juta Nomor HP Pengguna WhatsApp dari 84 Negara Diduga Bocor, 130 Ribu dari Indonesia]()
Data no HP yang dijual dipastikan valid atau aktif oleh Cybernews. Foto: ist
Hacker yang menjual data tersebut tidak menyebutkan metode pasti, tapi menjamin validitas data yang dibocorkan. Hal tersebut juga telah dikonfirmasi oleh Cybernews, yang mencoba meminta contoh data dan melakukan pengecekan langsung sejumlah pengguna di Inggris.
“Kita semua meninggalkan jejak digital cukup besar. Sementara raksasa teknologi seperti Meta harus mengambil semua tindakan pencegahan dan sarana untuk melindungi data tersebut,” kata kepala tim riset Cybernews Mantas Sasnauskas.
Bagaimana hacker bisa mendapatkan data no HP yang begitu besar? Cybernews menduga bahwa pelaku menggunakan serangan smishing dan vishing.
Smishing adalah penipuan phishing melalui pesan elektronik/SMS, atau disebut juga SMS phishing.
Voice phishing atau vhishing adalah bentuk penipuan melalui telepon. Penipu menggunakan social engineering melalui telepon untuk mendapatkan akses ke informasi dan keuangan pribadi korban.

Data no HP yang dijual dipastikan valid atau aktif oleh Cybernews. Foto: ist
Hacker yang menjual data tersebut tidak menyebutkan metode pasti, tapi menjamin validitas data yang dibocorkan. Hal tersebut juga telah dikonfirmasi oleh Cybernews, yang mencoba meminta contoh data dan melakukan pengecekan langsung sejumlah pengguna di Inggris.
“Kita semua meninggalkan jejak digital cukup besar. Sementara raksasa teknologi seperti Meta harus mengambil semua tindakan pencegahan dan sarana untuk melindungi data tersebut,” kata kepala tim riset Cybernews Mantas Sasnauskas.
Lihat Juga :