5 Cara yang Membuat Startup Digital Mampu Bertahan Lama
Senin, 07 November 2022 - 05:34 WIB
loading...
A
A
A
2. Gabungkan hasil benchmarking dengan data dan analisa mandiri
Salah satu cara startup untuk bisa memahami pasar yang dituju adalah dengan melakukan benchmarking, yaitu menganalisa apa yang telah dilakukan startup serupa atau bahkan kompetitor. Di tahap awal, founder pun bisa menjajal langsung dengan menjadi user di bisnis serupa, agar bisa mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari startup lain dan menghadirkan solusi yang lebih baik.
“Di awal perkembangan, Kitabisa sering belajar dari operasional platform penghimpunan dana internasional, Gofundme. Namun, ada perbedaan bisnis yang cukup signifikan, justru setelah itu kami menemukan platform crowdfunding dari India yang punya produk yang lebih mirip, sehingga menjadi patokan benchmarking kami. Tapi, hasil dari benchmarking ini wajib untuk kami kombinasikan dengan insight data yang kami punya, karena bagaimanapun setiap pasar memiliki dinamikanya sendiri-sendiri,” ujar Alfatih Timur, Co-Founder & CEO Kitabisa.com.
3. Lakukan eksperimen kecil-kecilan
Eksperimen secara terus-menerus merupakan kunci dari keberhasilan Rama Notowidigo, Co-Founder AwanTunai dan Sayurbox, sekaligus mantan Chief Product Officer GO-JEK. Ia mengatakan, penting bagi founder startup untuk berani mencoba segala sesuatu, dan melihat mana cara yang berhasil dan gagal. Kesuksesan itu sendiri bisa dilihat jika eksperimen tersebut bisa menghasilkan pendapatan organik dan ada level retensi (loyalitas pengguna) yang cukup sehat.
Christopher Madiam pun ikut menyuarakan hal yang sama. Ia menyarankan para founders untuk mencoba segala sesuatu di skala kecil-kecilan. Jika mendapatkan respon positif dari pengguna/klien, barulah startup bisa menyempurnakan kembali produk tersebut. Seringkali eksperimen kecil-kecilan menjadi faktor yang lebih efektif daripada terlalu banyak menerima teori saja tanpa dipraktikkan.
Salah satu cara startup untuk bisa memahami pasar yang dituju adalah dengan melakukan benchmarking, yaitu menganalisa apa yang telah dilakukan startup serupa atau bahkan kompetitor. Di tahap awal, founder pun bisa menjajal langsung dengan menjadi user di bisnis serupa, agar bisa mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari startup lain dan menghadirkan solusi yang lebih baik.
“Di awal perkembangan, Kitabisa sering belajar dari operasional platform penghimpunan dana internasional, Gofundme. Namun, ada perbedaan bisnis yang cukup signifikan, justru setelah itu kami menemukan platform crowdfunding dari India yang punya produk yang lebih mirip, sehingga menjadi patokan benchmarking kami. Tapi, hasil dari benchmarking ini wajib untuk kami kombinasikan dengan insight data yang kami punya, karena bagaimanapun setiap pasar memiliki dinamikanya sendiri-sendiri,” ujar Alfatih Timur, Co-Founder & CEO Kitabisa.com.
3. Lakukan eksperimen kecil-kecilan
Eksperimen secara terus-menerus merupakan kunci dari keberhasilan Rama Notowidigo, Co-Founder AwanTunai dan Sayurbox, sekaligus mantan Chief Product Officer GO-JEK. Ia mengatakan, penting bagi founder startup untuk berani mencoba segala sesuatu, dan melihat mana cara yang berhasil dan gagal. Kesuksesan itu sendiri bisa dilihat jika eksperimen tersebut bisa menghasilkan pendapatan organik dan ada level retensi (loyalitas pengguna) yang cukup sehat.
Christopher Madiam pun ikut menyuarakan hal yang sama. Ia menyarankan para founders untuk mencoba segala sesuatu di skala kecil-kecilan. Jika mendapatkan respon positif dari pengguna/klien, barulah startup bisa menyempurnakan kembali produk tersebut. Seringkali eksperimen kecil-kecilan menjadi faktor yang lebih efektif daripada terlalu banyak menerima teori saja tanpa dipraktikkan.
Lihat Juga :