Badai Matahari Menghantam selama Akhir Pekan
Selasa, 09 Agustus 2022 - 19:54 WIB
loading...
A
A
A
Termasuk, peningkatan elektron berenergi tinggi di dalam magnetosfer, serta mengganggu perilaku hewan karena beberapa hewan yang bermigrasi mengandalkan medan magnet Bumi untuk bernavigasi. Matahari memuntahkan badai matahari secara kontinu akhir-akhir ini, saat mencapai puncak siklus 11 tahunan.
Karena itu, kemungkinan besar bintik matahari, yang didefinisikan NASA sebagai area matahari yang tampak gelap karena lebih dingin daripada di tempat lain di permukaan matahari, kemungkinan akan muncul, menghasilkan peristiwa matahari tambahan. Bintik-bintik ini tampak lebih dingin dan lebih gelap dari sekitarnya karena medan magnet yang kuat menghambat masuknya gas baru panas dari interior matahari.
Baca juga; Badai Matahari Bikin Belahan Bumi Utara Lebih Terang Sebelum Natal
Badai matahari berikutnya membuat media sosial semarak, terutama di Amerika Utara, karena banyak orang-orang mengunggah aurora atau Cahaya Utara. Fenomonea penampakan langit yang meledak menjadi warna ungu dan merah yang cemerlang.
Salah satunya Tamitha Skov, seorang fisikawan luar angkasa yang menggunakan nama samaran Space Weather Woman. “Kami telah melompat ke tingkat G2, terutama akibat membaliknya utara-selatan-utara dari medan magnet matahari,” tulisnya melalui akun Twitter.
Karena itu, kemungkinan besar bintik matahari, yang didefinisikan NASA sebagai area matahari yang tampak gelap karena lebih dingin daripada di tempat lain di permukaan matahari, kemungkinan akan muncul, menghasilkan peristiwa matahari tambahan. Bintik-bintik ini tampak lebih dingin dan lebih gelap dari sekitarnya karena medan magnet yang kuat menghambat masuknya gas baru panas dari interior matahari.
Baca juga; Badai Matahari Bikin Belahan Bumi Utara Lebih Terang Sebelum Natal
Badai matahari berikutnya membuat media sosial semarak, terutama di Amerika Utara, karena banyak orang-orang mengunggah aurora atau Cahaya Utara. Fenomonea penampakan langit yang meledak menjadi warna ungu dan merah yang cemerlang.
Salah satunya Tamitha Skov, seorang fisikawan luar angkasa yang menggunakan nama samaran Space Weather Woman. “Kami telah melompat ke tingkat G2, terutama akibat membaliknya utara-selatan-utara dari medan magnet matahari,” tulisnya melalui akun Twitter.
(wib)
Lihat Juga :