Waspada, Puing Seberat 20 Ton dari Roket Raksasa China Akan Berjatuhan dari Langit
Jum'at, 29 Juli 2022 - 11:25 WIB
loading...
A
A
A
Byers menyebut badan roket yang jatuh ke bumi itu tiga kali lebih mungkin mendarat di garis lintang Jakarta, Dhaka dan Lagos dibandingkan New York, Beijing atau Moskow. ”Risiko ini sepenuhnya dapat dihindari karena teknologi dan desain misi sekarang ada yang dapat memberikan entri ulang yang terkontrol (biasanya ke daerah-daerah terpencil di lautan) alih-alih tidak terkontrol dan acak,” katanya.
Holger Krag, kepala Kantor Puing-puing Antariksa Badan Antariksa Eropa, mengatakan praktik terbaik dunia terhadap puing-puing luar angkasa adalah melakukan re-entry yang terkontrol, menargetkan bagian laut yang terpencil. Sehingga tidak ada risiko puing tersebut jatuh ke wilayah yang padat penduduk.
Jonathan McDowell, astronom di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan bahwa puing-puing luar angkasa dengan berat lebih dari 2,2 ton biasanya dibawa ke lokasi tertentu pada orbit pertama Bumi. ”Intinya, benda-benda yang besar biasanya tidak bisa mengorbit tanpa sistem kendali aktif,” ujarnya.
Dengan “tidak ada sistem kontrol aktif dan tidak ada mesin yang dapat dihidupkan kembali untuk mendorongnya kembali ke Bumi ... maka puing tersebut hanya jatuh di orbit dan akhirnya terbakar karena gesekan dengan atmosfer,” kata McDowell kepada CNN.
China dikritik keras tahun lalu karena penanganannya terhadap puing-puing luar angkasa setelah meluncurkan modul lain pada roket serupa. Sisa-sisa puing jatuh ke Samudra Hindia dekat Maladewa 10 hari setelah peluncuran.
Holger Krag, kepala Kantor Puing-puing Antariksa Badan Antariksa Eropa, mengatakan praktik terbaik dunia terhadap puing-puing luar angkasa adalah melakukan re-entry yang terkontrol, menargetkan bagian laut yang terpencil. Sehingga tidak ada risiko puing tersebut jatuh ke wilayah yang padat penduduk.
Jonathan McDowell, astronom di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan bahwa puing-puing luar angkasa dengan berat lebih dari 2,2 ton biasanya dibawa ke lokasi tertentu pada orbit pertama Bumi. ”Intinya, benda-benda yang besar biasanya tidak bisa mengorbit tanpa sistem kendali aktif,” ujarnya.
Dengan “tidak ada sistem kontrol aktif dan tidak ada mesin yang dapat dihidupkan kembali untuk mendorongnya kembali ke Bumi ... maka puing tersebut hanya jatuh di orbit dan akhirnya terbakar karena gesekan dengan atmosfer,” kata McDowell kepada CNN.
China dikritik keras tahun lalu karena penanganannya terhadap puing-puing luar angkasa setelah meluncurkan modul lain pada roket serupa. Sisa-sisa puing jatuh ke Samudra Hindia dekat Maladewa 10 hari setelah peluncuran.
Lihat Juga :