Ini Alasan Tembakau Bikin Kecanduan dan Sulit Berhenti Mengonsumsinya
Senin, 18 Juli 2022 - 12:14 WIB
loading...
A
A
A
Menurut National Cancer Institute, zat psikoaktif adalah zat yang memengaruhi cara kerja otak dan menyebabkan perubahan suasana hati, kesadaran, pikiran, perasaan, atau perilaku. Contoh lain dari zat psikoaktif termasuk LSD, alkohol dan kafein.
“Nikotin sangat adiktif ketika dihisap atau dibawa ke paru-paru karena permulaan efek seperti stimulan terjadi sangat cepat melalui rute pemberian ini,” jelas David Ledgerwood, seorang psikolog klinis di Substance Abuse Research Division di Wayne State University di Detroit, Michigan.
Setelah "pukulan" awal kenikmatan dari merokok dirasakan, kemudian menghilang dengan cepat, menyebabkan perokok sering mengonsumsi kembali produk tembakau untuk mencapai pengalaman stimulan yang sama. Saat tembakau dikonsumsi, kadar nikotin dalam aliran darah melonjakdan masuk ke otak.
Baca juga; 3 Rekomendasi Produk Tembakau Alternatif untuk Berhenti Merokok
Begitu berada di otak besar, nikotin menempel dan mengaktifkan reseptor yang melepaskan dopamin zat kimia "bahagia", yang membuat orang merasa lebih baik. Akibatnya, otak perokok dengan cepat menganggap nikotin sebagai zat "bahagia ", dan akan mendambakannya ketika merokok.
“Nikotin sangat adiktif ketika dihisap atau dibawa ke paru-paru karena permulaan efek seperti stimulan terjadi sangat cepat melalui rute pemberian ini,” jelas David Ledgerwood, seorang psikolog klinis di Substance Abuse Research Division di Wayne State University di Detroit, Michigan.
Setelah "pukulan" awal kenikmatan dari merokok dirasakan, kemudian menghilang dengan cepat, menyebabkan perokok sering mengonsumsi kembali produk tembakau untuk mencapai pengalaman stimulan yang sama. Saat tembakau dikonsumsi, kadar nikotin dalam aliran darah melonjakdan masuk ke otak.
Baca juga; 3 Rekomendasi Produk Tembakau Alternatif untuk Berhenti Merokok
Begitu berada di otak besar, nikotin menempel dan mengaktifkan reseptor yang melepaskan dopamin zat kimia "bahagia", yang membuat orang merasa lebih baik. Akibatnya, otak perokok dengan cepat menganggap nikotin sebagai zat "bahagia ", dan akan mendambakannya ketika merokok.
Lihat Juga :