Mirip, Ilmuwan Cari Benang Merah Virus Corona dengan Flu Rusia 1889
Kamis, 17 Februari 2022 - 19:31 WIB
loading...
A
A
A
BACA: Ini Sebaran Kasus Covid-19 di Tanah Air
Secara umum, flu Rusia tampaknya membunuh jauh lebih banyak orang tua daripada anak-anak. Tidak seperti virus influenza, yang cenderung sama fatalnya bagi kedua kelompok usia.
"Ciri-ciri pandemi flu Rusia ini sangat mirip dengan pandemi saat ini, namun gagasan bahwa flu Rusia mungkin disebabkan oleh virus corona tetap spekulatif," kata Peter Palese, seorang peneliti flu dan profesor kedokteran di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di New York, kepada The New York Times.
Beberapa ahli mulai mempercayai teori ini, tetapi yang lain mengatakan mereka perlu bukti kuat untuk mendukung gagasan itu. Sayangnya, bukti itu belum ditemukan hingga kini.
BACA JUGA: Brankas Kiamat Kedatangan Benih Baru dari 6 Negara
Dr. Jeffery Taubenberger, kepala bagian patogenesis dan evolusi virus di National Institute of Allergy and Infectious Diseases dan John Oxford, profesor di University of London, kini sedang mencari bukti tersebut dengan mengambil sampel jaringan paru-paru yang diawetkan sebelum pandemi flu 1918.
Secara umum, flu Rusia tampaknya membunuh jauh lebih banyak orang tua daripada anak-anak. Tidak seperti virus influenza, yang cenderung sama fatalnya bagi kedua kelompok usia.
"Ciri-ciri pandemi flu Rusia ini sangat mirip dengan pandemi saat ini, namun gagasan bahwa flu Rusia mungkin disebabkan oleh virus corona tetap spekulatif," kata Peter Palese, seorang peneliti flu dan profesor kedokteran di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di New York, kepada The New York Times.
Beberapa ahli mulai mempercayai teori ini, tetapi yang lain mengatakan mereka perlu bukti kuat untuk mendukung gagasan itu. Sayangnya, bukti itu belum ditemukan hingga kini.
BACA JUGA: Brankas Kiamat Kedatangan Benih Baru dari 6 Negara
Dr. Jeffery Taubenberger, kepala bagian patogenesis dan evolusi virus di National Institute of Allergy and Infectious Diseases dan John Oxford, profesor di University of London, kini sedang mencari bukti tersebut dengan mengambil sampel jaringan paru-paru yang diawetkan sebelum pandemi flu 1918.
Lihat Juga :