Wajah Muram Gunung Everest, Dijuluki Kuburan Massal Tertinggi di Dunia
Rabu, 19 Januari 2022 - 14:55 WIB
loading...
A
A
A
Selain mayat yang bergelimpangan, peralatan pendakian yang dibuang sembarangan, botol oksigen, dan barang sisa lain dari ekspedisi selama bertahun-tahun berserakan mengotori lereng gunung. Kondisi ini membuat Gunung Everest mendapatkan gelar tidak resmi lainnya: "tempat sampah tertinggi di dunia."
Banyak yang bertanya mengapa tidak dilakukan upaya memindahkan mayat yang mengotori gunung atau setidaknya dikuburkan. Faktanya, dan kenyataan ini menyakitkan, bagi pendaki atau siapa pun yang hidup, sudah sangat sulit, bahkan harus mempertaruhkan nyawa untuk bisa kembali hidup-hidup dari Gunung Everest.
Selain itu, kondisi mayat yang membeku berselimut es dan sudah sangat kaku, bukan hal mudah untuk memindahkannya. Diibaratkan, memindahkan satu jenazah seperti memindahkan batang pohon yang sangat berat sekitar 200 pon (90,7 kg). Kondisi ini semakin membahayakan orang atau pendaki yang masih hidup, jadi pendaki yang meninggal akan ditinggal di tempat terakhir dia berdiri.
Dikutip SINDOnews dari laman skyaboveus, dalam beberapa tahun terakhir, akibat sejumlah protes dan insentif, akhirnya mendorong para pemimpin ekspedisi untuk mulai memindahkan beberapa mayat yang ada di lereng Gunung Everest. Sementara beberapa mayat telah dipindahkan, diperkirakan lebih dari 100 masih berada di gunung tertinggi di dunia itu.
Salah satu mayat paling terkenal di Gunung Everest dikenal sebagai "Sepatu Hijau" dan jenazahnya dilewati oleh hampir setiap pendaki ketika hendak mencapai zona kematian. Identitas pendaki Sepatu Hijau ini masih diperdebatkan, tetapi diyakini secara luas bahwa dia adalah Tsewang Paljor, seorang pendaki India yang meninggal pada tahun 1996.
Banyak yang bertanya mengapa tidak dilakukan upaya memindahkan mayat yang mengotori gunung atau setidaknya dikuburkan. Faktanya, dan kenyataan ini menyakitkan, bagi pendaki atau siapa pun yang hidup, sudah sangat sulit, bahkan harus mempertaruhkan nyawa untuk bisa kembali hidup-hidup dari Gunung Everest.
Selain itu, kondisi mayat yang membeku berselimut es dan sudah sangat kaku, bukan hal mudah untuk memindahkannya. Diibaratkan, memindahkan satu jenazah seperti memindahkan batang pohon yang sangat berat sekitar 200 pon (90,7 kg). Kondisi ini semakin membahayakan orang atau pendaki yang masih hidup, jadi pendaki yang meninggal akan ditinggal di tempat terakhir dia berdiri.
Dikutip SINDOnews dari laman skyaboveus, dalam beberapa tahun terakhir, akibat sejumlah protes dan insentif, akhirnya mendorong para pemimpin ekspedisi untuk mulai memindahkan beberapa mayat yang ada di lereng Gunung Everest. Sementara beberapa mayat telah dipindahkan, diperkirakan lebih dari 100 masih berada di gunung tertinggi di dunia itu.
Salah satu mayat paling terkenal di Gunung Everest dikenal sebagai "Sepatu Hijau" dan jenazahnya dilewati oleh hampir setiap pendaki ketika hendak mencapai zona kematian. Identitas pendaki Sepatu Hijau ini masih diperdebatkan, tetapi diyakini secara luas bahwa dia adalah Tsewang Paljor, seorang pendaki India yang meninggal pada tahun 1996.

Lihat Juga :