Menelusuri Jejak Islam yang Tersembunyi dari Bangunan Bersejarah Kota Madrid
Sabtu, 11 Desember 2021 - 19:59 WIB
loading...
A
A
A
Madrid sekarang menjadi rumah bagi sekitar 300.000 Muslim. Populasi Muslim Spanyol telah berkembang menjadi sekitar dua juta dalam beberapa dekade terakhir karena migrasi, dengan sebagian besar berasal dari Maroko, Aljazair, Nigeria, Senegal dan Pakistan. Banyak yang akhirnya menjadi warga negara Spanyol.
La Moreria, kawasan di mana Muslim tinggal setelah penaklukan Kristen, sekarang menjadi lingkungan yang semarak, labirin jalan-jalan sempit berliku yang penuh dengan teras, bar tapas, kafe, restoran, dan gereja serta museum tertua di kota itu.
Pengaruh para pendiri Muslim terlihat dari bangunan-bangunan mudejar tertua di kota itu dan sisa-sisa tembok abad kesembilan yang dilestarikan. Salah satunya di sebuah taman yang tenang yang dinamai menurut nama penguasa pertama kota itu, Parque Mohamed I. (Baca juga; Prasasti Waqfiyya Ungkap Dokumentasi Wakaf Dua Desa di Palestina pada Abad Ke-9 )
Istilah mudejar mengacu kepada gaya arsitektur dan dekorasi Iberia pada abad pertengahan, khususnya Aragon dan Kastilia, yang sangat dipengaruhi oleh cita rasa dan keahlian ala Moor. Ada elemen dekoratif gaya arsitektur Eropa, yang dicirikan oleh batu bata yang halus dan ubin berlapis kaca.
![Menelusuri Jejak Islam yang Tersembunyi dari Bangunan Bersejarah Kota Madrid]()
“Masa lalu jauh lebih beragam, tidak hanya soal konflik dan pertumpahan darah. Itu juga merupakan periode kerja sama, perdagangan, dan banyak hal menarik yang tidak terlalu terlihat dalam citra kolektif yang dimiliki orang Spanyol tentang Al-Andalus," kata Oulad Mohammed, 36, seorang aktivis komunitas Madrid dikutip SINDOnews dari laman Middleeasteye (MEE), Sabtu (11/12/2021).
Namun saat ini hanya sedikit petunjuk yang terlihat dari masa kejayaan Muslim di ibu kota Spanyol tersebut. Istana Kerajaan, misalnya, berdiri di situs Alcazar (benteng) abad kesembilan bangsa Moor, yang dihancurkan oleh api pada tahun 1734.
La Moreria, kawasan di mana Muslim tinggal setelah penaklukan Kristen, sekarang menjadi lingkungan yang semarak, labirin jalan-jalan sempit berliku yang penuh dengan teras, bar tapas, kafe, restoran, dan gereja serta museum tertua di kota itu.
Pengaruh para pendiri Muslim terlihat dari bangunan-bangunan mudejar tertua di kota itu dan sisa-sisa tembok abad kesembilan yang dilestarikan. Salah satunya di sebuah taman yang tenang yang dinamai menurut nama penguasa pertama kota itu, Parque Mohamed I. (Baca juga; Prasasti Waqfiyya Ungkap Dokumentasi Wakaf Dua Desa di Palestina pada Abad Ke-9 )
Istilah mudejar mengacu kepada gaya arsitektur dan dekorasi Iberia pada abad pertengahan, khususnya Aragon dan Kastilia, yang sangat dipengaruhi oleh cita rasa dan keahlian ala Moor. Ada elemen dekoratif gaya arsitektur Eropa, yang dicirikan oleh batu bata yang halus dan ubin berlapis kaca.

“Masa lalu jauh lebih beragam, tidak hanya soal konflik dan pertumpahan darah. Itu juga merupakan periode kerja sama, perdagangan, dan banyak hal menarik yang tidak terlalu terlihat dalam citra kolektif yang dimiliki orang Spanyol tentang Al-Andalus," kata Oulad Mohammed, 36, seorang aktivis komunitas Madrid dikutip SINDOnews dari laman Middleeasteye (MEE), Sabtu (11/12/2021).
Namun saat ini hanya sedikit petunjuk yang terlihat dari masa kejayaan Muslim di ibu kota Spanyol tersebut. Istana Kerajaan, misalnya, berdiri di situs Alcazar (benteng) abad kesembilan bangsa Moor, yang dihancurkan oleh api pada tahun 1734.
Lihat Juga :