Efisien dan Aman, Open Source Inovasi Bisnis Saat Pandemi
Rabu, 07 Juli 2021 - 18:49 WIB
loading...
PT. Equnix Business Solutions setiap minggu secara rutin mengadakan webinar edukasi TI pada umumnya dan Open Source pada khususnya. FOTO/ IST
A
A
A
JAKARTA - Lebih dari satu tahun pandemi telah mengubah perilaku sosial masyarakat di seluruh dunia. Semua kegiatan masyarakat menjadi serba online. Hadirnya Open Source menjadi game changer bagi kelangsungan bisnis perusahaan karena menawarkan kemandirian dan efisiensi terutama di masa pandemi yang masih belum jelas akhirnya.
Kondisi normal memang harus secara mendadak berubah seiring dengan terjadinya pandemi yang belum juga usai, namun mengutip apa yang disampaikan oleh Profesor asal Austria, Peter Drucker, yang juga seorang pendidik dan ahli manajemen, menyatakan “Bahaya yang lebih besar saat turbulensi, adalah bukan turbulensi itu sendiri, melainkan menanggapinya dengan logika yang sudah ketinggalan jaman.”
Perbankan yang butuh keamanan data tingkat tinggi hingga startup yang perlu kemudahan dan efisiensi telah memanfaatkan Open Source sejak lama. Jadi tak ada salahnya jika di masa sulit ini pelaku usaha kecil dan menengah juga memanfaatkannya agar bisa segera masuk ke dunia digital guna memperluas pasar sesuai arahan pemerintah. BACA JUGA - Adam Prawira, Pemimpin yang Berdedikasi dan Mengayomi
Dengan memanfaatkan keunggulan dari Open Source, yang mampu terhindar dari pembelian lisensi software berbayar yang mahal, Open Source memberikan potensi layanan yang jauh lebih baik lagi karena penggunaannya secara terbuka, tidak ada vendor-lock-in, dukungan mumpuni dari penyedia layanan yang terpercaya, membebaskan pengguna dari ketergantungan Vendor Asing. Adopsi Open Source sebagai bagian dari inovasi atau terobosan untuk efisiensi perusahaan merupakan hal yang tidak terelakkan, terlebih dalam masa sekarang ini.
Tidak hanya memberikan penghematan biaya, namun juga memberikan kontrol sepenuhnya kepada pengguna, menghilangkan ketergantungan dan membebaskan kita untuk memilih dan memperlakukan sesuai dengan kebutuhan kita.
Semua keunggulan Open Source itu akan menjadi sia-sia jika sumber daya manusia yang menjalankannya tidak ada. Apalagi data menunjukkan bahwa saat ini Indonesia mengalami kesenjangan talenta digital dibanding negara lain. “Kita membutuhkan 9 juta talenta digital dalam 15 tahun. Atau rata-rata 600.000 talenta digital setiap tahun,” ucap Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Johnny G Plate dalam program peluncuran modul literasi digital.
Kondisi normal memang harus secara mendadak berubah seiring dengan terjadinya pandemi yang belum juga usai, namun mengutip apa yang disampaikan oleh Profesor asal Austria, Peter Drucker, yang juga seorang pendidik dan ahli manajemen, menyatakan “Bahaya yang lebih besar saat turbulensi, adalah bukan turbulensi itu sendiri, melainkan menanggapinya dengan logika yang sudah ketinggalan jaman.”
Perbankan yang butuh keamanan data tingkat tinggi hingga startup yang perlu kemudahan dan efisiensi telah memanfaatkan Open Source sejak lama. Jadi tak ada salahnya jika di masa sulit ini pelaku usaha kecil dan menengah juga memanfaatkannya agar bisa segera masuk ke dunia digital guna memperluas pasar sesuai arahan pemerintah. BACA JUGA - Adam Prawira, Pemimpin yang Berdedikasi dan Mengayomi
Dengan memanfaatkan keunggulan dari Open Source, yang mampu terhindar dari pembelian lisensi software berbayar yang mahal, Open Source memberikan potensi layanan yang jauh lebih baik lagi karena penggunaannya secara terbuka, tidak ada vendor-lock-in, dukungan mumpuni dari penyedia layanan yang terpercaya, membebaskan pengguna dari ketergantungan Vendor Asing. Adopsi Open Source sebagai bagian dari inovasi atau terobosan untuk efisiensi perusahaan merupakan hal yang tidak terelakkan, terlebih dalam masa sekarang ini.
Tidak hanya memberikan penghematan biaya, namun juga memberikan kontrol sepenuhnya kepada pengguna, menghilangkan ketergantungan dan membebaskan kita untuk memilih dan memperlakukan sesuai dengan kebutuhan kita.
Semua keunggulan Open Source itu akan menjadi sia-sia jika sumber daya manusia yang menjalankannya tidak ada. Apalagi data menunjukkan bahwa saat ini Indonesia mengalami kesenjangan talenta digital dibanding negara lain. “Kita membutuhkan 9 juta talenta digital dalam 15 tahun. Atau rata-rata 600.000 talenta digital setiap tahun,” ucap Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Johnny G Plate dalam program peluncuran modul literasi digital.