Air Laut Terus Naik, NASA Teliti Gejala Tak Biasa Bumi dari Angkasa
Minggu, 22 November 2020 - 20:05 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Ini Ambisi Besar Elon Musk untuk Umat Manusia di Usia 79 Tahun )
Studi yang dipublikasikan di Nature Climate Change, membandingkan hasil neraca massa lapisan es dari pengamatan satelit dengan proyeksi dari model iklim.(Baca juga:Van Gaal Jujur, Ngaku Baru Sekarang Suka Nonton Italia Bermain)
Sejak pemantauan sistematis lapisan es dimulai pada awal 1990-an, Greenland dan Antartika kehilangan 6,4 triliun ton es antara 1992 dan 2017. Kejadian ini mendorong permukaan laut global naik 17,8 milimeter.
(Baca juga : Orang Dalam Ungkap Kesalahan Fatal Adegan Film Fast and Furious )
Jika laju ini terus berlanjut, lapisan es diperkirakan akan menaikkan permukaan laut lebih jauh 17 cm dan mengakibatkan akan lebih banyak kawasan pesisir terendam.
Penulis utama studi dan peneliti iklim di Center for Polar Observation and Modeling di University of Leeds, Tom Slater, mengatakan, satelit adalah satu-satunya cara mereka untuk memantau secara rutin area yang luas dan terpencil ini.
Studi yang dipublikasikan di Nature Climate Change, membandingkan hasil neraca massa lapisan es dari pengamatan satelit dengan proyeksi dari model iklim.(Baca juga:Van Gaal Jujur, Ngaku Baru Sekarang Suka Nonton Italia Bermain)
Sejak pemantauan sistematis lapisan es dimulai pada awal 1990-an, Greenland dan Antartika kehilangan 6,4 triliun ton es antara 1992 dan 2017. Kejadian ini mendorong permukaan laut global naik 17,8 milimeter.
(Baca juga : Orang Dalam Ungkap Kesalahan Fatal Adegan Film Fast and Furious )
Jika laju ini terus berlanjut, lapisan es diperkirakan akan menaikkan permukaan laut lebih jauh 17 cm dan mengakibatkan akan lebih banyak kawasan pesisir terendam.
Penulis utama studi dan peneliti iklim di Center for Polar Observation and Modeling di University of Leeds, Tom Slater, mengatakan, satelit adalah satu-satunya cara mereka untuk memantau secara rutin area yang luas dan terpencil ini.
Lihat Juga :