Bisnis Co-Living Didukung Teknologi Diramalkan Bakal Cerah
Rabu, 06 Mei 2020 - 20:49 WIB
loading...
A
A
A
Dari situ, ‘saudara jauh’ co-working, yakni co-living, bisa menjadi suatu tren baru di masa mendatang. Sebab menyediakan ‘kombinasi’ sesuai bagi populasi pekerja jarak jauh yang sedang bertumbuh pesat.
Sebagai pekerja digital media lepas di Jakarta, Fati (24) memiliki kebebasan untuk memilih tempat kerjanya. Dia memutuskan menyewa ruang co-working di Mega Kuningan.
Pilihan tersebut didasari oleh adanya kemungkinan untuk melakukan networking, hingga tersedianya acara mingguan hingga fasilitas macam WiFi berkecepatan tinggi. Sebelum pemerintah mendorong warganya untuk bekerja dari rumah pada awal Maret, Fati biasa menghabiskan 15 menit waktu perjalanan ke tempat kerja dari huniannya di kawasan Setiabudi yang disewa dari operator co-living berbasis teknologi, Flokq.
Selama pandemik, dia melakukan seluruh pekerjaan dari ruang co-living-nya. Fati sama sekali tidak kehilangan segala kelebihan yang biasa dirasakan di tempat kerjanya.
“Beberapa waktu terakhir, aku meluangkan lebih banyak waktu di apartemenku. Flokq menyediakan internet yang cepat, dan aku juga merasa mudah melakukan pekerjaan di ruang komunal bersama teman-teman flat. Ini terasa nyaman, dan sepertinya aku akan melanjutkan gaya kerja seperti ini bahkan setelah pandemik selesai,” tutur Fati.
Potensi perubahan tren dari co-working menjadi co-living turut disadari oleh Garry (32), entrepreneur startup di Jakarta. Meskipun tinggal di ruang co-living yang disediakan oleh Flokq di kawasan Senopati, dia tetap mampu bekerja sama dengan timnya di ruang co-working di kawasan Mega Kuningan.
Sebagai pekerja digital media lepas di Jakarta, Fati (24) memiliki kebebasan untuk memilih tempat kerjanya. Dia memutuskan menyewa ruang co-working di Mega Kuningan.
Pilihan tersebut didasari oleh adanya kemungkinan untuk melakukan networking, hingga tersedianya acara mingguan hingga fasilitas macam WiFi berkecepatan tinggi. Sebelum pemerintah mendorong warganya untuk bekerja dari rumah pada awal Maret, Fati biasa menghabiskan 15 menit waktu perjalanan ke tempat kerja dari huniannya di kawasan Setiabudi yang disewa dari operator co-living berbasis teknologi, Flokq.
Selama pandemik, dia melakukan seluruh pekerjaan dari ruang co-living-nya. Fati sama sekali tidak kehilangan segala kelebihan yang biasa dirasakan di tempat kerjanya.
“Beberapa waktu terakhir, aku meluangkan lebih banyak waktu di apartemenku. Flokq menyediakan internet yang cepat, dan aku juga merasa mudah melakukan pekerjaan di ruang komunal bersama teman-teman flat. Ini terasa nyaman, dan sepertinya aku akan melanjutkan gaya kerja seperti ini bahkan setelah pandemik selesai,” tutur Fati.
Potensi perubahan tren dari co-working menjadi co-living turut disadari oleh Garry (32), entrepreneur startup di Jakarta. Meskipun tinggal di ruang co-living yang disediakan oleh Flokq di kawasan Senopati, dia tetap mampu bekerja sama dengan timnya di ruang co-working di kawasan Mega Kuningan.
Lihat Juga :