Cari Obat COVID-19, WHO Akhirnya Setujui Uji Klinis Herbal
Kamis, 24 September 2020 - 22:22 WIB
loading...
A
A
A
Alasan kedua, obat herbal ipuji karena penggunaan profilaksisnya. Percobaan paling menarik saat ini yang sedang dilakukan oleh DAILAB IIT Delhi dan Institut Nasional Sains dan Teknologi Industri Lanjutan (AIST) Jepang. Mengomentari susunan biokimia alami, para peneliti mengataka, sifat ashwagandha dapat digunakan untuk menargetkan enzim penyebab penyakit dan memecah protein, Mpro (Main protease), yang bertanggung jawab untuk replikasi dan penyebaran virus.
Ketiga, bahan herbal dapat membantu pengembangan vaksin. Sifat anti-virus yang sama juga telah diamati pada ramuan lain, Propolis Selandia Baru, yang dapat membantu memblokir dan melemahkan struktur virus.
Menariknya, perusahaan farmasi juga terjun ke III eksperimen tersebut. Grup seperti Medicago yang berbasis di Kanada dan perusahaan medis lain yang berbasis di Australia juga sedang bekerja mengembangkan vaksin nabati menggunakan bahan berbasis jamu yang kuat.
Terpisah, Deputi II Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Maya Gustina Andarini, mengatakan, dengan jamu produk herbal tergolong ramuan empiris, yang artinya sudah turun-temurun digunakan sejak zaman nenek moyang.
"Seperti temulawak, beras kencur, kunyit asam, itu kan semua ramuan-ramuan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang kita dan klaimnya pun klaim empiris. Kita melihat itu dari beberapa pustaka. Itu untuk jamu tidak perlu uji empiris, sebab kita sudah tahu mengenai keamanannya," ujarnya. (Baca juga: Klaim Gratis, Ternyata Aplikasi Ini Menggeroti Dompet Penggunanya )
Ketiga, bahan herbal dapat membantu pengembangan vaksin. Sifat anti-virus yang sama juga telah diamati pada ramuan lain, Propolis Selandia Baru, yang dapat membantu memblokir dan melemahkan struktur virus.
Menariknya, perusahaan farmasi juga terjun ke III eksperimen tersebut. Grup seperti Medicago yang berbasis di Kanada dan perusahaan medis lain yang berbasis di Australia juga sedang bekerja mengembangkan vaksin nabati menggunakan bahan berbasis jamu yang kuat.
Terpisah, Deputi II Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Maya Gustina Andarini, mengatakan, dengan jamu produk herbal tergolong ramuan empiris, yang artinya sudah turun-temurun digunakan sejak zaman nenek moyang.
"Seperti temulawak, beras kencur, kunyit asam, itu kan semua ramuan-ramuan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang kita dan klaimnya pun klaim empiris. Kita melihat itu dari beberapa pustaka. Itu untuk jamu tidak perlu uji empiris, sebab kita sudah tahu mengenai keamanannya," ujarnya. (Baca juga: Klaim Gratis, Ternyata Aplikasi Ini Menggeroti Dompet Penggunanya )
(iqb)
Lihat Juga :