Waspadai Heat Stroke, Jakarta Bakal Terasa Jauh Lebih Gerah hingga Akhir September 2026

Senin, 27 Juli 2026 - 17:00 WIB
loading...
Waspadai Heat Stroke,...
Fenomena hawa panas yang dipicu posisi kulminasi matahari yang bergerak tepat di atas cakrawala Pulau Jawa. Untuk meredakan cuaca panas, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi pendingin portabel. Foto/Dok. SindoNews
A A A
JAKARTA - Ada yang merasa Jakarta terasa jauh lebih gerah dari biasanya? Hal itu pun dikonfirmasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) menyusul fenomena hawa panas yang dipicu oleh posisi kulminasi matahari yang bergerak tepat di atas cakrawala Pulau Jawa. Terlebih, saat ini Indonesia sedang memasuki musim kemarau.

"Mengenai temperatur di DKI Jakarta itu akan terasa lebih sumuk kalau orang Jawa bilang, karena sekitar bulan September akhir hingga Oktober, posisi matahari itu persis melintas di sekitar wilayah atasnya Pulau Jawa," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers "Perkembangan Musim Kemarau Indonesia 2026" di Jakarta, Rabu 10 Juni 2026. Baca juga: BMKG Pantau Siklon Tropis NOUL, Waspada Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah

Dia menjelaskan sebelum memasuki fase lonjakan suhu ekstrem pada pengujung September, wilayah ibu kota akan terlebih dahulu dihadapkan pada karakteristik udara kering yang disertai berkurangnya tingkat kelembapan sepanjang Juli hingga Agustus. Kombinasi antara penurunan kelembapan udara di pertengahan tahun dan kenaikan temperatur pada Oktober merupakan siklus iklim tahunan yang khas melanda kawasan hilir Pulau Jawa saat berada di pusat puncak musim kemarau.

Dampak dari fenomena El Nino tahun ini juga diproyeksikan mempertegas durasi cuaca panas tersebut, dengan Jabodetabek secara umum dipastikan mengalami periode musim kemarau yang berlangsung jauh lebih panjang dari kondisi normal. Selain berdampak pada anomali suhu dan perpanjangan musim kering, hantaman El Nino di wilayah ibu kota ini juga berimbas langsung pada penurunan kualitas udara akibat berkurangnya intensitas curah hujan.

Dengan cuaca panas yang lebih panjang, BMKG mengimbau masyarakat di kawasan kota megapolitan ini untuk mengantisipasi perubahan pola cuaca dengan menjaga kondisi kesehatan fisik, asupan makan-minum serta merujuk pada saluran informasi cuaca resmi pemerintah saat beraktivitas.

Risiko Heat Stroke Meningkat
cuaca panas ekstrem yang melanda Jakarta menimbulkan kekhawatiran di sektor kesehatan. Wamenkes Dante Saksono Harbuwono, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko heat stroke yang bisa terjadi akibat paparan panas berlebih dalam waktu lama.

Menurut Dante, heat stroke merupakan kondisi serius ketika tubuh kehilangan kemampuan untuk mengatur suhu internal akibat paparan panas ekstrem. Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan berat hingga mengancam nyawa.

"Tubuh kita diberi kemampuan untuk menjaga agar situasi panas yang ada di sekeliling kita dapat dimeredakan demi menjaga keseimbangan suhu tubuh untuk metabolisme," kata Wamenkes Dante dikutip dari unggahan video di akun Instagram pribadinya, @dante.harbuwono pada Rabu, 20 Mei 2026.

Dante menjelaskan gejala awal heat stroke sering kali tidak disadari. Kondisi ini biasanya diawali dengan sakit kepala, tubuh terasa lemas, hingga pusing. Pada tahap yang lebih berat, penderita bisa mengalami kejang hingga penurunan kesadaran.

Dante menegaskan kelompok yang paling rentan adalah mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Untuk mencegah kondisi tersebut, ia mengimbau masyarakat agar memperhatikan langkah-langkah sederhana tapi penting, seperti menggunakan pakaian yang longgar, menjaga asupan cairan tubuh, serta menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari. "Karena pakaian longgar itu bisa menjaga ventilasi tubuh supaya bisa menyesuaikan suhu panas dan suhu yang keluar dari tubuh," tambahnya.

Selain itu, penggunaan pelindung seperti topi atau penutup kepala juga disarankan untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda awal kelelahan akibat panas.

Pemerintah, lanjut Dante, terus mengedukasi masyarakat agar lebih waspada terhadap dampak perubahan cuaca ekstrem. Dia menekankan bahwa pencegahan jauh lebih penting dibandingkan penanganan saat kondisi sudah memburuk.

Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi pendingin portabel. Salah satu inovasi diluncurkan JiSULIFE dengan lini Ultra 2 dengan fitur. Pertama, Performa Pendinginan Skala Personal yang Bertenaga. JISULIFE Ultra 2 menghadirkan hembusan angin yang kuat, hingga 17 m/s, dan terfokus langsung ke area yang dibutuhkan. Ini bukan sekadar angin sepoi-sepoi biasa, melainkan sensasi pendinginan nyata yang mampu menembus tebalnya kelembapan udara Jakarta.

Kedua, Ketahanan Baterai Sepanjang Hari. Baterai JISULIFE Ultra 2 berkapasitas hingga 9000 mAH. Dengan kapasitas sebesar itu, produsen menjamin kipas portabel tersebut bisa dipakai sepanjang hari.

Ketiga, Operasi Motor yang Sangat Senyap (Whisper-Quiet Operation). Ultra 2 dilengkapi dengan motor canggih yang beroperasi pada tingkat kebisingan yang nyaris tidak terdengar. Anda akan merasakan kenyamanannya, namun orang di sekitar Anda tidak akan terganggu dengan suara bising. Baca juga: Bikin Jemaah Haji 2025 Sejuk, Arab Saudi Aktifkan Sistem Pendingin Terbesar di Dunia

Keempat, Desain Ultra-Kompak. Ultra 2 memiliki form factor yang sangat ramping, memungkinkannya mudah diselipkan dalam tas, bahkan saku jaket lari, tanpa memakan tempat terlalu banyak.

Bodinya tidak memberikan beban atau volume tambahan yang berarti, memastikan mobilitas Anda sama sekali tidak terhambat. Lebih dari itu, desain fisiknya sangat minimalis, bersih, dan premium.

Kelima, Penggunaan Instan. Anda Tidak perlu mengunduh aplikasi tambahan, tidak perlu melakukan sinkronisasi Bluetooth, dan tidak perlu membaca buku panduan yang tebal. Anda hanya perlu menekan satu tombol, dan dalam hitungan detik, hembusan udara sejuk langsung mengalir.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rumah Kuno Mendingin...
Rumah Kuno Mendingin saat Gelombang Panas Membakar Eropa
Bulan Juni 2026, Ilmuwan...
Bulan Juni 2026, Ilmuwan Sebut Air Laut Mulai Mendidih
Peringatan Keamanan...
Peringatan Keamanan Temukan AC, TV, dan Mesin Cuci Bisa Diretas
Picu Anomali Cuaca,...
Picu Anomali Cuaca, Titik Lemah Magnet Bumi di Atlantik Selatan Semakin Besar
Gelombang Panas Ekstrem...
Gelombang Panas Ekstrem Picu Darurat Iklim Global
Suhu Panas di Prancis...
Suhu Panas di Prancis Mencapai 80 Derajat Celcius, Bisa untuk Goreng Telur!
72,8% Wilayah Indonesia...
72,8% Wilayah Indonesia Kemarau, BMKG: Jateng Terkering, 80 Hari Tak Diguyur Hujan
4 Jembatan Putus Akibat...
4 Jembatan Putus Akibat Banjir di Aceh Utara, BNPB: Anomali Cuaca di Tengah Kemarau
Kemarau Meluas, BNPB...
Kemarau Meluas, BNPB Catat Karhutla Melanda 4 Daerah di Jawa Timur
Rekomendasi
Microdrama AI Makin...
Microdrama AI Makin Populer, Ini Rekomendasi Tontonan Seru di V+Short
Memahami Tugas Gubernur...
Memahami Tugas Gubernur BI dan Wewenangnya di Bank Indonesia
BGN Larang Dapur MBG...
BGN Larang Dapur MBG Gunakan Elpiji 3 Kg, Minyakita dan Beras SPHP: Melanggar Ditutup Permanen!
Berita Terkini
Waspadai Heat Stroke,...
Waspadai Heat Stroke, Jakarta Bakal Terasa Jauh Lebih Gerah hingga Akhir September 2026
Apple Siap Kenalkan...
Apple Siap Kenalkan Kacamata Pintar Terbaru di WWDC 2027
Dukung Vokasi, LG Hadirkan...
Dukung Vokasi, LG Hadirkan Kelas Multimedia Modern di SMKN 2 Tangerang Selatan
Nothing Ear (3a): Berani...
Nothing Ear (3a): Berani Beda di Pasar yang Menghukum Merek Asing
Facebook Menguji Tampilan...
Facebook Menguji Tampilan Video Layar Penuh Mirip TikTok
Korsel Terjunkan Robot...
Korsel Terjunkan Robot PiBot untuk Kemudikan Kapal Perang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved