Bulan Juni 2026, Ilmuwan Sebut Air Laut Mulai Mendidih
Kamis, 02 Juli 2026 - 21:23 WIB
loading...
Ilmuwan Sebut Air Laut Mulai Mendidih. Foto/ Viet
A
A
A
LONDON - Pada bulan Juni lalu, suhu laut global meningkat hingga mencapai rekor tertinggi. Para ilmuwan memperingatkan bahwa dunia dapat menghadapi cuaca ekstrem dan peningkatan kerusakan ekosistem.
Pada 1 Juli, data dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) menunjukkan bahwa suhu permukaan laut global rata-rata pada 21 Juni mencapai 20,86 derajat Celcius, melampaui rekor yang ditetapkan pada tahun 2024.
Para ilmuwanpercaya bahwa cuaca panas yang tidak biasa ini terutama disebabkan oleh terbentuknya fenomena El Niño, yang ditandai dengan pemanasan air yang tidak biasa di sepanjang Samudra Pasifik khatulistiwa.
Meskipun baru saja dimulai, El Niño diprediksi akan berkembang menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.
Selain itu, krisis iklim yang disebabkan oleh manusia juga dianggap sebagai faktor utama penyebab kenaikan suhu laut.
Selama beberapa dekade, lautan telah berperan sebagai "penyerap panas" Bumi, menyerap sekitar 90% panas berlebih yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.
Michael Meredith, seorang ilmuwan kelautan di British Antarctic Survey, mengatakan bahwa kenaikan suhu permukaan laut yang terus berlanjut bukanlah hal yang mengejutkan, tetapi laju pemanasan saat ini sangat mengkhawatirkan.
Para ilmuwan masih belum dapat memastikan apakah suhu yang memecahkan rekor di bulan Juni hanyalah fenomena sementara atau pertanda tren baru. Meskipun demikian, banyak ahli telah menyuarakan kekhawatiran mereka.
Carlo Buontempo, direktur Badan Perubahan Iklim Copernicus, percaya bahwa kondisi saat ini dapat menandai awal dari "periode yang belum pernah terjadi sebelumnya".
.
Menurutnya, dengan suhu laut saat ini berada pada level tertinggi dan ElNiñosemakin menguat,duniakemungkinan akan terus menyaksikan serangkaian rekor suhu baru dalam beberapa bulan mendatang.
Pada 1 Juli, data dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) menunjukkan bahwa suhu permukaan laut global rata-rata pada 21 Juni mencapai 20,86 derajat Celcius, melampaui rekor yang ditetapkan pada tahun 2024.
Para ilmuwanpercaya bahwa cuaca panas yang tidak biasa ini terutama disebabkan oleh terbentuknya fenomena El Niño, yang ditandai dengan pemanasan air yang tidak biasa di sepanjang Samudra Pasifik khatulistiwa.
Meskipun baru saja dimulai, El Niño diprediksi akan berkembang menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.
Selain itu, krisis iklim yang disebabkan oleh manusia juga dianggap sebagai faktor utama penyebab kenaikan suhu laut.
Selama beberapa dekade, lautan telah berperan sebagai "penyerap panas" Bumi, menyerap sekitar 90% panas berlebih yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.
Michael Meredith, seorang ilmuwan kelautan di British Antarctic Survey, mengatakan bahwa kenaikan suhu permukaan laut yang terus berlanjut bukanlah hal yang mengejutkan, tetapi laju pemanasan saat ini sangat mengkhawatirkan.
Para ilmuwan masih belum dapat memastikan apakah suhu yang memecahkan rekor di bulan Juni hanyalah fenomena sementara atau pertanda tren baru. Meskipun demikian, banyak ahli telah menyuarakan kekhawatiran mereka.
Carlo Buontempo, direktur Badan Perubahan Iklim Copernicus, percaya bahwa kondisi saat ini dapat menandai awal dari "periode yang belum pernah terjadi sebelumnya".
.
Menurutnya, dengan suhu laut saat ini berada pada level tertinggi dan ElNiñosemakin menguat,duniakemungkinan akan terus menyaksikan serangkaian rekor suhu baru dalam beberapa bulan mendatang.
(wbs)
Lihat Juga :