AI for Life: Ketika Kampus Mulai Bicara Etika, Bukan Sekadar Teknologi
Kamis, 02 Juli 2026 - 09:31 WIB
loading...
Binus University rayakan 45 tahun dengan gagasan AI for Life dan didapuk jadi tuan rumah QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali. Foto: Binus
A
A
A
JAKARTA - Binus University merayakan usia 45 tahun dengan cara yang tidak biasa untuk institusi pendidikan: bukan dengan seremoni, melainkan dengan gagasan.
Melalui Dewan Guru Besar, kampus ini mendorong konsep "AI for Life" — sebuah pengingat bahwa kecerdasan artifisial semestinya memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya.
Gagasan ini lahir di tengah kegelisahan yang mulai umum terasa: teknologi bergerak jauh lebih cepat dari kesiapan etika dan regulasi yang mengiringinya.
Ketua Dewan Guru Besar Binus University, Harjanto Prabowo menegaskan bahwa momentum Lustrum IX menjadi ruang bagi akademisi untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat luas, dengan penekanan bahwa AI harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya.
Tiga Fokus yang Menyoroti Peta Jalan AI Indonesia
AI for Life dirumuskan lewat tiga klaster keilmuan yang saling mengunci satu sama lain — dan justru di situlah letak relevansinya untuk konteks Indonesia.
Subtim yang dipimpin Prof. Firdaus Alamsjah, Prof. Widodo Budiharto, dan Prof. Engkos A. Kuncoro menyoroti pergeseran dari sekadar AI adoption menjadi AI transformation — dari sekadar memakai tools menjadi menciptakan nilai ekonomi dan sosial.
Ini mencakup kesiapan infrastruktur data, proteksi privasi, etika, hingga penyiapan talenta digital. Bagi Indonesia, ini menjawab persoalan klasik: negara ini konsumen teknologi terbesar di Asia Tenggara, tapi masih tertinggal sebagai pencipta teknologi.
Ini krusial untuk industri kreatif Indonesia yang selama ini bertumpu pada keunikan lokal, bukan hanya efisiensi produksi.
Forum bertema "Advancing Education for Purpose and Impact" ini dijadwalkan berlangsung pada 3–5 November 2026 di Bali International Convention Centre, mempertemukan lebih dari 1.000 delegasi lintas negara — mulai pemimpin perguruan tinggi, regulator pemerintah, hingga pelaku industri teknologi.
President of Binus Higher Education, Stephen Wahyudi Santoso, menyebut kesempatan menjadi tuan rumah bukan hanya pencapaian bagi Binus, tetapi juga momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara ini memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, berbasis teknologi, dan siap berkolaborasi secara global.
Yang membedakan AI for Life dari jargon transformasi digital pada umumnya adalah penolakannya terhadap dikotomi sederhana "pro-AI vs anti-AI". Rektor Binus University, Nelly, S.Kom menutup dengan penekanan bahwa kemajuan pendidikan tinggi dan teknologi tumbuh melalui dialog terbuka serta jejaring yang kuat, dan mengajak seluruh pemangku kepentingan — dari industri teknologi hingga pemerintah — membangun masa depan Indonesia yang adaptif, inklusif, dan berdampak nyata.
Melalui Dewan Guru Besar, kampus ini mendorong konsep "AI for Life" — sebuah pengingat bahwa kecerdasan artifisial semestinya memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya.
Gagasan ini lahir di tengah kegelisahan yang mulai umum terasa: teknologi bergerak jauh lebih cepat dari kesiapan etika dan regulasi yang mengiringinya.
Ketua Dewan Guru Besar Binus University, Harjanto Prabowo menegaskan bahwa momentum Lustrum IX menjadi ruang bagi akademisi untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat luas, dengan penekanan bahwa AI harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya.
Tiga Fokus yang Menyoroti Peta Jalan AI Indonesia
![AI for Life: Ketika Kampus Mulai Bicara Etika, Bukan Sekadar Teknologi]()
AI for Life dirumuskan lewat tiga klaster keilmuan yang saling mengunci satu sama lain — dan justru di situlah letak relevansinya untuk konteks Indonesia.
Subtim yang dipimpin Prof. Firdaus Alamsjah, Prof. Widodo Budiharto, dan Prof. Engkos A. Kuncoro menyoroti pergeseran dari sekadar AI adoption menjadi AI transformation — dari sekadar memakai tools menjadi menciptakan nilai ekonomi dan sosial.
Ini mencakup kesiapan infrastruktur data, proteksi privasi, etika, hingga penyiapan talenta digital. Bagi Indonesia, ini menjawab persoalan klasik: negara ini konsumen teknologi terbesar di Asia Tenggara, tapi masih tertinggal sebagai pencipta teknologi.
Bisnis dan Industri Kreatif: AI Tanpa Menghapus Sentuhan Manusia
Diulas oleh Prof. Harjanto Prabowo, Prof. John Fredy Bobby Saragih, Prof. Mita Purbasari Wahidiyat, dan Prof. Lindrianasari, fokus ini memposisikan AI sebagai mitra strategis untuk mempercepat eksploitasi ide dan daya saing efisiensi — tanpa menghilangkan sentuhan rasa, kepekaan sosial, dan budaya manusia.Ini krusial untuk industri kreatif Indonesia yang selama ini bertumpu pada keunikan lokal, bukan hanya efisiensi produksi.
Geopolitik, Hukum, dan Kebijakan: Kedaulatan Data sebagai Isu Nasional
Bagian ini digarap Prof. Mts Arief, Prof. Tirta N. Mursitama, dan Prof. Shidarta, menggarisbawahi urgensi kedaulatan data, keamanan siber, mitigasi perang asimetris, serta regulasi responsif yang melindungi kepentingan publik sekaligus mendorong inovasi. Ini menyangkut siapa yang mengendalikan data warga negara di tengah derasnya adopsi AI dari platform asing.Dari Kampus ke Panggung Dunia: QS Higher Ed Summit 2026
Gagasan ini akan digaungkan lebih luas lewat orasi ilmiah bertema "Shaping the Next Intelligence Era: Artificial Intelligence, Leadership, and Collaboration" pada QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026.Forum bertema "Advancing Education for Purpose and Impact" ini dijadwalkan berlangsung pada 3–5 November 2026 di Bali International Convention Centre, mempertemukan lebih dari 1.000 delegasi lintas negara — mulai pemimpin perguruan tinggi, regulator pemerintah, hingga pelaku industri teknologi.
President of Binus Higher Education, Stephen Wahyudi Santoso, menyebut kesempatan menjadi tuan rumah bukan hanya pencapaian bagi Binus, tetapi juga momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara ini memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, berbasis teknologi, dan siap berkolaborasi secara global.
Yang membedakan AI for Life dari jargon transformasi digital pada umumnya adalah penolakannya terhadap dikotomi sederhana "pro-AI vs anti-AI". Rektor Binus University, Nelly, S.Kom menutup dengan penekanan bahwa kemajuan pendidikan tinggi dan teknologi tumbuh melalui dialog terbuka serta jejaring yang kuat, dan mengajak seluruh pemangku kepentingan — dari industri teknologi hingga pemerintah — membangun masa depan Indonesia yang adaptif, inklusif, dan berdampak nyata.
(dan)
Lihat Juga :