Indonesia Posisi Kedua Negara yang Paling Mudah Dibodoh-bodohi

Senin, 11 Mei 2026 - 18:22 WIB
loading...
Indonesia Posisi Kedua...
Indonesia negara yang mudah ditipu. Foto/ PNG Tree
A A A
JAKARTA - Indonesia tercatat sebagai negara kedua paling rentan terhadap penipuan digital secara global berdasarkan Global Fraud Index 2025 yang dirilis Sumsub, perusahaan teknologi verifikasi identitas bertaraf internasional.


Laporan Global Fraud Index 2025 yang menempatkan Indonesia di posisi kedua sebagai negara paling rentan terhadap penipuan di dunia dengan skor 6,53 dari 10.

Data ini menunjukkan masyarakat masih cukup rentan terhadap berbagai modus penipuan digital, mulai dari investasi bodong, pencurian data pribadi, hingga penipuan online lainnya.

Tingginya angka tersebut jadi pengingat bahwa literasi digital dan kewaspadaan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Penting untuk lebih hati-hati, tidak mudah percaya, dan selalu memeriksa informasi sebelum bertindak.

Temuan ini memantik perhatian luas sekaligus memunculkan pertanyaan mendasar soal kesiapan sistem perlindungan digital nasional.

Dalam laporan tersebut, Indonesia menempati urutan ke-111 dari 112 negara yang diteliti dengan skor 6,53 dalam skala 0–10. Skor yang lebih tinggi mencerminkan tingkat kerentanan yang lebih besar. Hanya Pakistan yang berada di bawah Indonesia dengan skor 7,48.

Tingginya volume kasus penipuan digital. Data nasional mencatat ratusan ribu laporan penipuan keuangan digital setiap tahunnya, dengan kerugian mencapai triliunan rupiah. Modus yang paling umum meliputi penipuan jual beli daring, phishing, rekayasa sosial (social engineering), investasi bodong, hingga pinjaman online fiktif.

Kedua, rendahnya literasi digital masyarakat. "Ketika akses terhadap layanan digital meningkat, tanpa disertai pengetahuan yang memadai tentang cara mengenali dan menghindari modus penipuan yang terus berkembang, risiko individu terjebak dalam kejahatan siber meningkat signifikan," terang Pratama.

Ketiga, lemahnya implementasi hukum. Meski Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) telah berlaku sejak 2022, Pratama menyebut penerapannya belum efektif karena Badan Perlindungan Data Pribadi (Badan PDP) sebagai otoritas pengawas independen belum terbentuk secara operasional. "Ketidakjelasan ini memunculkan legal uncertainty dan celah kelembagaan yang dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mengeksploitasi data pribadi tanpa konsekuensi hukum yang tegas," ujarnya.

Keempat, ketidakmerataan sistem keamanan digital di sektor publik maupun swasta. Banyak perusahaan dinilai belum memiliki sistem keamanan yang memadai, sementara lembaga pemerintah masih menghadapi keterbatasan sumber daya dan koordinasi antarlembaga.

Global Fraud Index 2025 mengukur sejumlah indikator, di antaranya tingkat aktivitas penipuan digital, kesiapan mekanisme pencegahan seperti KYC/AML, kapasitas teknologi, intervensi pemerintah, serta kondisi ekonomi.

Sumsub juga mencatat bahwa negara-negara dengan PDB per kapita di bawah 25.000 dolar AS cenderung menunjukkan tingkat penipuan lebih tinggi dibandingkan negara berpenghasilan lebih besar.

Sebagai perbandingan, negara-negara dengan perlindungan terbaik antara lain Singapura, Luksemburg, Swiss, Denmark, dan Finlandia, yang dinilai memiliki regulasi ketat serta infrastruktur verifikasi digital yang matang.

Posisi Indonesia dalam indeks ini, lebih mencerminkan kerentanan sistemik ketimbang gambaran karakter masyarakatnya.

Tanpa penguatan literasi digital, perlindungan konsumen, dan koordinasi antarlembaga dalam menangani kejahatan siber, potensi kerugian akibat penipuan digital diperkirakan akan terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital nasional
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kenalkan Mikroskop...
AS Kenalkan Mikroskop dengan Resolusi Detail hingga yang Terkecil
Biji-bijian Tumbuh Pesat...
Biji-bijian Tumbuh Pesat Saat Mendengar Suara Hujan
Srikandi, Tempat Sampah...
Srikandi, Tempat Sampah AI Canggih yang Mengubah Cara Memilah Sampah
Riset Temukan Fakta...
Riset Temukan Fakta AI Kini Lebih Kreatif daripada Manusia
Era Mama Minta Pulsa...
Era Mama Minta Pulsa Tamat! Registrasi Kartu Kini Wajib Pindai Wajah
Modus Baru Kuras Rekening:...
Modus Baru Kuras Rekening: Hati-Hati Jebakan Refund QRIS Palsu Mengatasnamakan Ekspedisi
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Rekomendasi
119 Pekebun Morowali...
119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
Berita Terkini
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved