Data Bocor, Sistem Manual, SDM Minim: Kritik Riot Games Bikin Komdigi Disorot
Jum'at, 17 April 2026 - 09:18 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa komentar yang mencuat antara lain:
“Memang bener apa yang dikatakan Riot Games”
“Perlu sih kritik dari pihak luar kek gini, karena dari dalam negeri seringnya kagak digubris”
“Google Drive, understandable, have a great day”
“Kalopun digugat, pemerintah kita balasnya ya blokir aja”
“Malu nggak? ya enggak lahh”
“Lanjut aja kata-katain, biar malu”
“@kemkomdigi baca ulasan publik, jangan cuma keras kepala dan anti kritik”
Komentar-komentar tersebut mencerminkan persepsi publik bahwa masalah ini bukan sekadar teknis, tetapi juga soal reputasi nasional.
Kasus ini membuka kritik yang lebih mendasar: Indonesia memiliki regulasi, tetapi belum selalu diikuti kapasitas eksekusi.
IGRS sebagai sistem rating seharusnya menjadi:
• Penjaga standar konten
• Filter distribusi gim
• Jembatan antara regulator dan industri
Namun, jika SDM terbatas, sistem masih manual, dan keamanan belum terstandarisasi, maka regulasi hanya menjadi formalitas administratif.
Dalam industri global, kepercayaan adalah mata uang utama. Sekali sistem dianggap tidak aman, efeknya bisa meluas. Padahal, Indonesia sedang berusaha naik kelas dari sekadar konsumen menjadi produsen.
Kritik dari Riot Games bukan sekadar serangan, melainkan kode. Bahwa di balik pertumbuhan industri digital, ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai.
Jika tidak ditanggapi dengan pembenahan nyata—baik dari sisi teknologi maupun SDM—Indonesia berisiko tertinggal di tengah persaingan industri gim global yang semakin kompleks.
“Memang bener apa yang dikatakan Riot Games”
“Perlu sih kritik dari pihak luar kek gini, karena dari dalam negeri seringnya kagak digubris”
“Google Drive, understandable, have a great day”
“Kalopun digugat, pemerintah kita balasnya ya blokir aja”
“Malu nggak? ya enggak lahh”
“Lanjut aja kata-katain, biar malu”
“@kemkomdigi baca ulasan publik, jangan cuma keras kepala dan anti kritik”
Komentar-komentar tersebut mencerminkan persepsi publik bahwa masalah ini bukan sekadar teknis, tetapi juga soal reputasi nasional.
Kasus ini membuka kritik yang lebih mendasar: Indonesia memiliki regulasi, tetapi belum selalu diikuti kapasitas eksekusi.
IGRS sebagai sistem rating seharusnya menjadi:
• Penjaga standar konten
• Filter distribusi gim
• Jembatan antara regulator dan industri
Namun, jika SDM terbatas, sistem masih manual, dan keamanan belum terstandarisasi, maka regulasi hanya menjadi formalitas administratif.
Dalam industri global, kepercayaan adalah mata uang utama. Sekali sistem dianggap tidak aman, efeknya bisa meluas. Padahal, Indonesia sedang berusaha naik kelas dari sekadar konsumen menjadi produsen.
Kritik dari Riot Games bukan sekadar serangan, melainkan kode. Bahwa di balik pertumbuhan industri digital, ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai.
Jika tidak ditanggapi dengan pembenahan nyata—baik dari sisi teknologi maupun SDM—Indonesia berisiko tertinggal di tengah persaingan industri gim global yang semakin kompleks.
(dan)
Lihat Juga :